PALEMBANG — Penampilan pemain Sriwijaya FC di babak kedua saat melawan Barito Putera, Senin (13/2) sore di stadion I Wayan Dipta Gianyar Bali sedikit berbeda. Teja Paku Alam dkk mengenakan pita hitam di lengannya sebagai simbol tengah berduka cita.

Sekretaris tim SFC, Ahmad Haris membenarkan bahwa aksi tersebut memang sengaja dilakukan pihaknya untuk menghormati korban longsor di Bali yang terjadi Kamis (9/2) lalu. “Presiden SFC, Dodi Reza Alex memang menginstruksikan kepada kita agar turut memberikan hormat dan turut berduka atas bencana tersebut, apalagi ada 12 korban jiwa disana,” jelasnya.

Selain untuk korban longsor di Kintamani, Haris juga menyebut bahwa pita hitam di lengan tersebut juga ditujukan sebagai simbol turut berduka cita atas wafatnya Safarudin, salah satu pentolan supporter SFC, Minggu (12/2) kemarin. “Bodong (panggilan akrab Safarudin-red) merupakan salah satu sahabat kami, sosok yang selama hidupnya banyak meluangkan waktu untuk mendukung SFC, baik saat di Palembang maupun ketika tandang,” ungkap Haris.

Menurutnya, supporter merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan panjang SFC selama ini. “Sepakbola tidak hanya soal menang atau kalah, namun juga kemanusiaan dan persahabatan. Jadi apa yang kami lakukan ini sesuatu yang wajar dan sudah seharusnya dilakukan,” tambahnya.

Sementara itu, perwakilan pemain SFC Hilton Moreira mengaku sangat kaget mendengar kabar duka ini dan menyatakan turut bela sungkawa. “Saya mungkin tidak terlalu mengenal baik Bodong, hanya bertemu beberapa kali. Namun saya sedih mendengar kabar tersebut dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ungkap Hilton. (dedi)

Artikel Terkait