Laskarwongkito.com — Pernah nggak sih kamu nanya-nanya, minimal di dalam hati, mengapa bulan itu cuma punya 28 hari saja? Atau 29 hari tiap empat tahun sekali? Padahal bulan-bulan yang lain punya 30 atau 31 hari.

Ternyata ini sejarahnya lumayan panjang juga. Seperti yang kita tahu bahwa penanggalan Masehi kita ikut sistem Romawi yang berpatokan pada matahari. Mau tahu lebih lengkap lagi? Yuk simak!

(sumber foto: i2.wp.com)

1. Meski diagung-agungkan oleh orang jatuh cinta, Februari ternyata pernah ditolak keberadaannya oleh orang Romawi

Sekarang Februari identik dengan warna pink. Sekitar 700 tahun sebelum masehi, Februari dan Januari bahkan tidak eksis. Pada masa itu bangsa Romawi hanya mengenal sepuluh bulan dalam satu tahun, yaitu: Martius (31 hari), Aprilius (30 hari), Maius (31 hari), Junius (30 hari), Quintilis (31 hari), Sextilis (30 hari), September (30 hari), October (31 hari), November (30 hari), dan December (30). Yup, seperti yang kamu lihat, tahun diawali bulan Maret dan diakhiri Desember.

Nah, dengan bulan-bulan itu, jumlah harinya hanya 304 hari. Masih ada sekitar 61 hari yang tersisa. Tapi, jangka waktu antara Desember dan Maret itu adalah bulan yang paling dibenci. Musim dingin yang tidak membawa momen spesial apa pun yang bisa diingat. Jadi ketika di waktu itu orang bertanya ‘Bulan apa ini?’, orang Romawi akan menjawab ‘Nggak ada!’. Aneh nggak sih?

2. Demi menggenapi musim, Januari dan Februari akhirnya lahir. Si bungsu Februari harus rela jadi yang terakhir dan diberi angka yang (katanya) bawa sial.

Menurut kaisar Romawi generasi selanjutnya yaitu King Numa Pompilius, kenyataan bahwa terdapat bulan ‘nggak ada’ dalam satu tahun itu aneh dan bodoh. Buat apa punya kalender kalau ada 61 hari yang tidak punya nama?

Jadi pada abad 713 sebelum Masehi, kalender Romawi mengalami perubahan. Tak hanya menambahkan Januari dan Februari, Numa juga mengubah jumlah hari dalam banyak bulan. Dalam tradisi Romawi, angka genap dianggap membawa sial. Karena itu sebagai bungsu dari 12 bersaudara, Februari dikorbankan dengan diberi angka 28. Sementara Aprilius, Iunius, Sextilis, September, November, December, dan Januari punya 29 hari.

3. Karena kurang selaras dengan musim, terpaksa disisipkan ‘the leap year’ atau bulan siluman. Februari yang cuma punya 28 hari, harus rela dikurangi empat hari lagi

Dari kalender ciptaan King Numa Pompilius tersebut jumlah hari dalam setahun menjadi 355 hari. Awalnya ini tidak masalah. Tapi setelah beberapa tahun, antara musim dengan bulan mulai tidak sinkron alias kurang sesuai. Karena itulah, sesekali bangsa Romawi akan menyisipkan bulan siluman (a leap-month), yang dikenal dengan Marchedonius dengan jumlah hari sejumlah 27. Ketika bulan ini disisipkan, secara otomatis empat hari terakhir di bulan Februari dikorbankan. Jadi Februari hanya punya 24 hari. Ah, lagi-lagi si bungsu ini dianak-tirikan.

(sumber foto: hipwee.com)

4. Di masa pemerintahan Julius Caesar, kalender diubah lagi. Kali ini mengikuti aturan matahari, Februari memiliki 28 hari

Ternyata penerapan bulan siluman Marchedonius ini menimbulkan polemik baru. Masalahnya adalah selain pemerintah tidak ada yang tahu kapan bulan itu disisipkan, terkadang kekuasaan itu disalahgunakan untuk meraih keuntungan. Sesuai tradisi ketika Marchedonius datang, harga-harga barang akan langsung melambung tinggi. Terkadang bulan ini juga dipanjang-panjangkan demi kepentingan pemerintah.

Inkonsistensi ini diakhiri pada masa Julius Caesar. Kaisar yang terkenal skandalnya dengan Cleopatra ini, menciptakan kalender baru yang berdasarkan pada matahari seperti kalender Mesir. Sang raja menambah 10 hari setiap tahun yang dibagi-bagi untuk bulan yang tadinya 29 hari akhirnya menjadi 30 hari. Untuk alasan yang hanya diketahui oleh Julius Caesar sendiri, Februari dibiarkan tetap 28 hari.

5. Tahun kabisat yang datang empat tahun sekali, sebenarnya adalah akumulasi dari waktu yang tersisa dari tahun-tahun sebelumnya

Selain menambah sepuluh hari dalam satu tahun sehingga jumlahnya menjadi 365, Julius Caesar juga menambahkan satu hari setiap empat tahun sekali. Inilah yang disebut dengan Tahun Kabisat, di mana Februari punya 29 hari. Satu hari di tahun Kabisat adalah penyeimbang waktu selama empat tahun sebelumnya.

Jadi selama ini waktu bumi mengelilingi matahari tidak tepat 365 hari, melainkan 365 seperempat hari. Biar tidak gonjang-ganjing seperti era Romawi kuno yang perlu menambah Marchedonius, seperempat hari selama empat tahun diakumulasikan. Untuk kemudian jadi hari ke-29 di bulan Februari. Kamu yang lahir di tanggal 29 Februari, terima saja ya ulang tahunnya empat tahun sekali.

Tidak ada catatan khusus kenapa Julius Caesar membiarkan Februari tetap 28 hari. Sementara Juli dan Agustus sama-sama 31 hari. Berandai-andai saja, mungkin cuaca di Romawi pada masa itu memang kurang menyenangkan. Jadi orang males banget kalau berlama-lama di Februari dan ingin cepat-cepat ke Maret saja. Seperti kaum tuna asmara yang mendadak alergi pada bulan Februari karena tidak punya pacar untuk merayakan hari kasih sayang. Hehe.. (red/dil)

Artikel Terkait