PALEMBANG — Pelayaran samudera Cheng Ho dikenal sebagai perjalanan bersejarah terbesar dalam penjelajahan maritim yang melibatkan 400 armada kapal. Mengembangkan tujuh jalur perjalanan dunia dari 1405-1433, prinsip utama pelayaran ini adalah perkenalan dan pertukaran tehnologi yang diikat dengan semangat kolaborasi, kebhinekaan budaya dan dialog untuk perdamaian kawasan.

“Ketika Cheng Ho datang di Palembang sebutan Palembang pada kala itu, kedatangan Cheng Ho dengan misi kebudayaan dan memperkenalkan kekaisaran Ming, secara khusus Cheng Ho tidak menyebarkan Islam tapi karena beliau adalah Islam maka secara sadar dan tunduk kepada ajaran Islam maka Cheng Ho selain penyebaran kebudayaan, perdagangan dan memperkenal kekaisaran Ming, Cheng Ho tetap menyebarkan Islam,” jelas Bambang Budi Utomo peneliti Pusat penelitian Arkeologi Nasional, Senin (25/7).

Selain Misi tersebut menurut Bambang, Cheng Hao mempunyai misi lain untuk menangkap salah satu La Nun yang menguasai Palembang, karena pada saat itu secara de facto  Palembang tidak ada kekuasaan, tapi secara de jure Palembang masih dalam kekuasaan kerajaan Majapahit, Saat itu Majapahit menjelang keruntuhannya.

” Ya pada saat itu salah satu misinya menangkap La Nun yang menguasai Palembang Saat itu,” ungkap Bambang.

Laksmana Cheng Ho Menurut Bambang tidak mempunyai keturunan karena ia di kebiri, kesimpulannya Cheng Ha tidak memiliki istri di Palembang. ” Cheng Ho itu kebiri, jadi ia tidak punya istri apalagi anak,” tutupnya. (juniara)

RelatedPost