PALEMBANG — Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), pemerintah provinsi Sumatera Selatan menggelar upacara bendera yang mengusung tema “Percepat Pendidikan yang Merata dan Berkualitas” di halaman Griya Agung, Selasa (02/05).

Turut hadir wakil gubernur Sumsel, H. Ishak mekki, Ketua DPRD Sumsel, H. Giri Ramanda, Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, H. Widodo dan seluruh kepala sekolah SMA/SMK se- Sumse serta par siswa-siswi.

Dalam kata sambutan Menteri Pendidikan RI yang dibacakan oleh Gubernur Sumsel H. Alex Noerdin bahwa pada setiap saat memperingati Hardiknas pelajar se-Indonesia tak pernah lupa dengan sosok Ki Hadjar Dewantara. Mengapa? Karena peringatan Hari Pendidikan Nasional didasarkan atas hari kelahirannya. Beliau dilahirkan tanggal 2 Mei 1889. Beliau sudah disepakati sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

“Dengan tanpa bermaksud mengecilkan peran para tokoh pendidikan yang lain, peran Ki Hadjar Dewantara pada awal perintisan pendidikan nasional memang sangat besar. Baik berupa gagasan, pemikiran, maupun terawang masa depan. Oleh sebab itulah gagasan dan pemikiran beliau tetap relevan dan menjadi acuan bagi pembangunan pendidikan nasional kita,” katanya

Beberapa di antara pandangan pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah pertama ”Panca Dharma” yaitu bahwa pendidikan perlu beralaskan lima dasar yaitu kemerdekaan, kodrat alam, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Kedua “Kon-3” yaitu bahwa penyelenggaraan pendidikan harus berdasarkan asas kontinuitas, konvergensi, dan konsentris, dalam arti proses pendidikan perlu berkelanjutan, terpadu, dan berakar di bumi tempat dilangsungkannya proses pendidikan.

Ketiga “Tri-pusat Pendidikan” bahwa pendidikan hendaklah berlangsung di tiga lingkungan, yang kita kenal dengan nama tripusat, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat yang saling berhubungan simbiotis dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain

“Ketiga peran tersebut harus dilaksanakan secara seksama baik bergantian maupun serempak dalam tampilan sosok pemimpin pendidikan yang utuh. Di sinilah kita diingatkan untuk tidak memenggal dan menerapkan sepenggal sepenggal tiga laku kepemimpinan dalam praksis pendidikan Ki Hadjar Dewantara,” jelasnya.

Dengan gagasan pemikiran dan prinsip prinsip pendidikan Ki Hadjar Dewantara tersebut telah menjadi dasar acuan visi Presiden RI, Joko Widodo di bidang pendidikan, “Dalam visi Presiden, masa depan Indonesia adalah sangat ditentukan oleh generasi peserta didik masa kini yang memiliki karakter atau budi pekerti yang kuat, serta menguasai berbagai bidang ketrampilan hidup, vokasi dan profesi abad 21,” katanya

Oleh karena itu untuk mewujudkan visi tersebut, Pemerintah terkait seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersiap melakukan reformasi pendidikan nasional baik pada tataran konseptual maupun manajerial.

“Untuk tujuan itu, sekarang tengah diupayakan penyelarasan, penyatuan, dan pembauran bidang kebudayaan dengan pendidikan. Begitu juga dalam pemanfaatan sumber sumber belajar yang ada di kelas, di lingkungan sekolah dan yang ada di luar sekolah. Sehingga proses pembelajaran tidak terkotak kotak, tersekat sekat, tertutup, dan sumpeg, melainkan terbuka, luwes dan leluasa, ” tutupnya. (juniara)din

 

Artikel Terkait