PALEMBANG — Sriwijaya FC sukses mencatat rekor sempurna di 3 laga awal putaran kedua kompetisi Torabika Soccer Championship (TSC) berkat kontribusi para pemain yang sebelumnya disebut gaek. Dari 11 gol yang diciptakan, 8 diantaranya memang dihasilkan oleh pemain yang sudah berusia diatas 30 tahun yakni Airlangga Sucipto (31 tahun), TA Musafri (34) dan Alberto Goncalves (36).

Beberapa pihak pun menyebut bahwa kebangkitan SFC memang ditentukan oleh kiprah para pemain senior yang memang menjadi tulang punggung laskar wong kito musim ini. Selain Beto yang sudah menyumbangkan 11 gol dan menjadi top skor sementara SFC saat ini, sosok Firman Utina yang belakangan seperti sudah kembali ke puncak permainannya.

Namun pelatih SFC, Widodo C Putro menolak anggapan tersebut dan menyebut bahwa kunci keberhasilan skuadnya adalah kerja keras, kekompakan serta disiplin seluruh elemen tim. “Saya tidak pernah melihat seorang pemain dari usia atau nama besarnya, siapa yang menampilkan permainan terbaik saat latihan pasti akan bermain. Selain itu, di musim ini saya pun harus memberikan menit bermain yang adil kepada seluruh anggota tim dan rasanya SFC adalah salah satu yang sudah memainkan seluruh pemainnya,” ujar legenda timnas Indonesia ini saat dihubungi Senin (19/9) sore.

Tidak hanya itu, menurutnya SFC musim ini juga banyak memainkan pemain muda di dalam skuad intinya seperti Teja Paku Alam, Ichsan Kurniawan dan Zalnando. “Kemudian ada juga Rizky Dwi Ramadhana yang meski belum berhasil menyumbangka gol namun selalu memberikan kontribusi positif saat diturunkan dan mencetak 3 assist sejauh ini. Jadi SFC bukan hanya melulu soal pemain senior saja, harus ada keseimbangan di dalam tim,” jelasnya.

Sementara itu, Alberto Goncalves dan Hilton Moreira mengaku cibiran yang ditujukan kepada mereka saat bergabung dengan SFC musim ini merupakan motivasi utama dan menjadi penyemangat saat bertanding. “Rasanya sangat menyakitkan disebut sudah tua dan habis oleh komentator di televisi, karena itu kini jika menonton siaran langsung sepakbola nasional saya lebih banyak mematikan suaranya karena terkadang penilaian komentator tersebut tidaklah benar,” ujar Hilton.

Namun keduanya mengaku bahwa pola latihan yang dikembangkan oleh Keitk Kayamba selaku pelatih fisik SFC cukup baik dan mampu menjadikan seluruh pemain bugar. “Meski terlihat berat, namun memang hal itu perlu dilakukan. Kita lihat hampir di seluruh pertandingan pemain SFC mampu bermain konstan selama 90 menit, jadi soal pemain sudah tua atau tidak itu bukan sebuah jaminan. Tergantung bagaimana pemain itu sendiri dan kemampuan pelatih dalam menyiapkan timnya,” pungkasnya. (dedi)

RelatedPost