Meski sudah ada wacana digelarnya kompetisi oleh PT Liga Indonesia di awal tahun 2016 mendatang, namun beberapa pihak mengaku bahwa hal tersebut belum dapat menjadi jalan keluar dari konflik sepakbola berkepanjang di tanah air. Apalagi hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai  kepastian bergulirnya kompetisi yang akan diikuti oleh 18 klub Indonesian Super League (ISL) ini.

“Meski ada rencana sepert i itu,  namun rata-rata pemain asing yang kita tawarkan bermain disini selalu bertanya apakah nantinya kompetisi tersebut akan tetap berada di bawah naungan FIFA. Karena bagaimanapun mereka memendam kekhawatiran akan terkena masalah bila tidak mendapat pengakuan dari badan sepakbola tertinggi dunia tersebut,” ujar Eko Subekti, salah satu agen pemain berlisensi FIFA di Indonesia saat dihubungi Senin (29/12) sore.

Apalagi para pemain yang sebelumnya tidak pernah bermain Indonesia, hampir semua menetapkan syarat tersebut dan mundur perlahan saat tahu peliknya permasalahan sepakbola d tanah air. Kondisi ini sendiri juga menjadi faktor enggannya Goran Ljubojevic, salah satu legiun asing di kompetisi Qatar National Bank (QNB) League lalu kembali merumput di Indonesia.

“Saya banyak dapat tawaran, namun turnamen yang marak digelar di Indonesia saat ini tidak menguntungkan pemain. Baik dari sisi kecilnya nilai bayaran hingga apakah mendapat restu dari FIFA, jadi jika sanksinya belum dicabut, rasanya saya akan sulit kembali bermain di Indonesia,” jelas pemain asal Kroasia yang juga anggota Fif Pro, asosiasi pesepakbola profesional dunia ini.

Sanksi FIFA sendiri memang menjadi mimpi buruk bagi seluruh pelaku sepakbola di Indonesia, termasuk SFC yang belakangan harus membatalkan niatnya untuk menggelar sejumlah laga di Asia sebagai bagian dari Road Asian Games 2018. “SFC sudah ditunjuk sebagai duta Asian Games 2018 dan kami pun sudah ada rencana menggelar pertandingan di sejumlah negara sebagai bagian dari promosinya, namun adanya sanksi FIFA membuat hal tersebut harus ditunda sementara waktu,” jelas Nirmala Dewi, direktur promosi dan marketing PT SOM, pengelola laskar wong kito.

Menurutnya, dari berbagai korespondensi yang dilakukan, negara yang terkena sanksi FIFA memang akan kesulitan menggelar pertandingan berskala internasional. “Jadi jangankan kita yang mengundang tim luar negeri, mereka pun katanya akan terkena sanksi bila menerima SFC di negaranya selama Indonesia masih mendapat sanksi FIFA,” jelasnya. Sebelumnya, beberapa negara di Asia Tenggara diakuinya sudah dibidik sebagai destinasi untuk mempromosikan pelaksaanaan pesta olahraga Asia yang akan digelar 2018 mendatang tersebut.

Untuk sementara waktu, berdasarkan arahan dari Presiden Klub SFC, pihaknya akan tetap mempromosikan Asian Games 2018 ke sejumlah kabupaten-kota di Sumsel terlebih dulu. “Ada 7 daerah yang akan dikunjungi di tahap pertama, namun mengenai kepastiannya masih kita susun sembari melihat agenda tim di 2016 nanti supaya tidak berbenturan dengan persiapan menghadapi kompetisi atau turnamen yang sudah direncanakan sebelumnya,” pungkasnya.