Laskarwongkito.com — Jika ditelusuri ke belakang ternyata Pasar Cinde memiliki hubungan sejarah panjang dengan kelahiran Kota Palembang yang pada 17 Juni 2016 sudah berusia 1.333 tahun.

Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) cabang Sumatera Selatan (Sumsel), Farida R Wargadalem mengungkapkan cerita tentang keberadaan Pasar Cinde sebagai cagar budaya. Menurutnya, salah satu syarat sebagai bangunan cagar budaya minimal berusia 50 tahun.

wajah-baru-pasar-cinde-mulai-disosialisasikan

(sumber foto: blogspot.com)

“Pasar Cinde mulai dibangun pada 1957 dan selesai pembangunannyan 1958. Dari segi usia, dianggap mencukupi, kemudian dilihat dari segi arsitektur berbentuk cendawan. Pasca terbakarnya Pasar Johar di Semarang, bagi Sumatera, terutama Sumatera Selatan dan kota Palembang, maka bentuk cendawan ini hanya Pasar Cinde yang mempunyai kategori arsitektur yang berkelas,” katanya.

Jika melihat jauh surut ke belakang, cerita kawasan Pasar Cinde pada  zaman kerajaan menurut Farida, cinde berasal dari kata candi, karena itu ada namanya Candi Welang jadi Cando Walang, dan Candi Angkoso. Pasar Cinde saat ini masih dalam satu kawasan di candi. “Di belakang Pasar Cinde ada ada komplek makam, kuburan pendiri Kesultanan Palembang dari 1659. Kesultanan Palembang berdiri pada 1677,” katanya.

Menurut Farida R Wargadalem, cinde yang selama ini identik dengan istilah cindo diartikan kebanyakan masyarakat Palembang dengan cantik, lalu Pasar Cinde dikonotasikan sebagai pasar cantik. “Artinya ternyata berarti lebih dari sekedar makna yang tersurat.”

Ketua MSI Sumsel mengingatkan, nama Cinde, bukan sekedar Cindo, tapi Candi.  Lebih dari itu, Cinde bisa dimaknakan pusat kota atau penguasa atau raja. “Kini sudah menjadi tugas bersama menggali dan menebalkan bukti sejarah yang terbukukan. Agar kelak jika anak cucu kita bertanya, ada jawaban benar yang disampaikan,” pesan pemilik blog History of Palembang.

Menurut Farida, Pasar Cinde itu penanda zaman, memang bukan Thomas Karsten yang mendesain tapi si arsitek mengadaptasi desain Karsten. “Untuk tahun 1930, arsitektur cendawan sudah tingkat advance, kalau kita ke Cinde, di atasnya ada sirkulasi udara, bukti kecanggihan di zamannya.”

pasar-cinde-palembang-yang-hendak-dipugar

(sumber foto: cdn2.tstatic.net)

Bagi staf pengajar sejarah Universitas Sriwijaya (Unsri) ini selain desain arsiteknya dianggap sangat unik, konstruksi bangunannya membuat sirkulasi udara lancar, tentunya tak membuat sesak dan pengap seperti pasar pada umumnya. “Inilah arsitek di zamannya, tanpa penerang tetap terang, tanpa AC tetap nyaman suasananya.”

Desain arsitektur dengan tiang penyangga berbentuk cendawan sampai kini masih bisa terlihat bagi siapa saja yang datang berbelanja ke Pasar Cinde. Ketua MSI Sumsel mengakui kondisi kini pasar tersebut secara umum bangunannya terlihat kusam dan kumuh. “Karena tidak ada penataan dengan baik jadi Pasar Cinde ini kelihatan kumuh,” jelas Farida.

Farida menjelaskan, tiang cendawan di Pasar Cinde memiliki filosofi tentang masyarakat kita dahulu yang berjualan di bawah pohon. Tiang-tiang penyanga  tersebut mirip dengan arsitektur pohon, memberikan kesejukan melalui sirkulas udara yang nyaman saat berjualan. “Jadi dari segi arsitektur mempunyai ciri khusus, kalau dihancurkan maka kita kehilangan identitas bangunan cagar budaya,” ungkapnya.

Pasar Cinde dan lokasi sekitarnya menurut Farida dari segi sejarah memiliki keterkaitan dengan sejarah kota Palembang dan sejarah kemerderkaan Republik Indonesia. Para masa perang kemerdekaan, menurutnya, meski tidak persis tepat di Cinde, perang melawan penjajah terjadi di sekitarnya yang kini dikenal dengan nama Jalan Jenderal Sudirman. “Kawasan Cinde pernah menjadi daerah gerilyawan pejuang kala itu, meski lokasi persis perjuangan ada di sekitar RS Charitas dan Jalan Kapten A Rivai saat ini,” jelasnya. (red)

Artikel Terkait