Laskarwongkito.com — Boleh jadi, saat ini, kita hanya mengenal bahasa pasaran Palembang saja. Yakni, bahasa rakyat bawah dengan aksen yang senantia diakhiri dengan huruf ‘O’. Namun, tahukah kamu, jika di masa lampau, Palembang mempunyai tiga ragam bahasa. Bahasa apa sajakah itu?

Di masa Keraton Kesultanan Palembang, masyarakat dan para bangsawan, berkomunikasi dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Jawa, Arab, dan Melayu. Bahasa Melayu hidup di kawasan ini, jauh sebelum Kesultanan berdiri dan diyakini sebagai bahasa masyarakat asli.

persembahan songket riau (6)

(sumber foto: 3.bp.blogspot.com)

Tertulis dengan huruf pallawa, bahasa Melayu digunakan dalam prasasti Kedukan Bukit (682 M). Prasasti yang ditemukan di tepi Sungai Tatang, sebelah barat Kota Palembang, pada tahun 1920, menandai berdirinya Kerajaan Sriwijaya.

Berbagai temuan sejarah Kerajaan Sriwijaya, termasuk arca dan stupika, menunjukan bahwa Sriwijaya menjalin kerjasama serta berkomunikasi erat dengan para saudagar dan pemuka agama dari Cina, India, dan Arab. Hal ini membuktikan bahwa Sriwijaya merupakan kerajaan yang besar, berpengaruh, dan diperhitungkan. Sriwijaya memiliki rentang wilayah kekuasaan yang luas, meliputi hampir seluruh Sumatera, Semenanjung Malaka, dan Jawa.

Setelah keruntuhan Sriwijaya, pada abad ke-14, Palembang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Namun, kekuasaan Majapahit tidak mengakar di kawasan ini. Majapahit sendiri diguncang perang saudara, tak lama setelah berekspansi ke Pulau Sumatera.

Palembang nyaris menjadi daerah tak bertuan, sehingga kekuasaan baru di bangun Ki Gede Ing Suro bersama para pengikutnya. Kelompok bangsawan ini menyingkir ke Palembang, setelah kalah dalam perseteruan Kesultanan Demak di Jawa Tengah.

Kontinuitas kultural Jawa tertanam sebagai dasar legitimasi Keraton Palembang. Budayawan Djohan Hanafiah mencatat, keterkaitan politik ini berakhir setelah Sultan Abdurrahman (1659-1706) memproklamasikan Kesultanan Palembang pada tahun 1675. Jeroen Peeteers dalam Kaum Tuo Kaum Mudo, perubahan religius di Palembang 1821-1942 (1997) memaparkan, di kalangan keraton, bahasa Jawa Kromo (bahasa Jawa halus) menjadi bahasa resmi. Akan tetapi, pemakaian bahasa ini tidak tersebar luas di luar lingkungan Keraton Palembang.

Merujuk pada sejumlah naskah berbahasa Jawa yang tersimpan di Royal Asiatic Society, London. Peeters meyakini naskah-naskah tersebut juga hanya beredar di lingkungan keraton. Beberapa naskah berbahasa Jawa ini antara lain teks Panji (1801) yang ditulis atas permintaan Sultan Ahmad Najamuddin.

Kesultanan Palembang Darussalam menjadikan agama Islam sebagai dasar negara. Oleh karena itu, ulama mendapatkan penghormatan sangat tinggi dari Sultan yang berkuasa. Mujib Ali dalam tulisan Pemilihan Ulama Kesultanan Palembang (1997), mengungkapkan penelitiannya bahwa ulama kesultanan yang mendampingi dan menjadi penasehat Sultan selalu di makamkan ditempat, bilik, dan deretan yang sama dengan Sultan.

Pada makam Kesultanan di Candi Walang, Palembang misalnya, makam susuhan Abd ‘I-Rahman Khalifat ‘I Mukminin Sayyid ‘I Imam diapit makam permaisurinya dan makam Imam Sultan bernama Sayid Mustafa Alaidrus dari negeri Yaman. Pemakaman serupa terdapat pada makam-makam Sultan yang lain di Kebon Gede, Kawah Tengkurep, dan Kampung 1 Ilir.

Selain didampingi ulama, Sultan juga memiliki juru tulis khusus untuk penulisan bahasa Arab. Bahasa dan tulisan Arab digunakan dalam kitab-kitab utama pengajaran Islam di Palembang, termasuk naskah yang berkaitan dengan tasawuf dan tafsir. Sebagian naskah-naskah keagamaan yang ditemukan, merupakan kitab yang langsung di bawa dari Arab. Sebagian lainnya di salin ulang dengan ketelitian yang tinggi di Palembang.

Akan tetapi, seperti bahasa Jawa Kromo yang hanya dikuasai oleh kalangan bangsawan, bahasa Arab juga lebih dikuasai para guru atau kalangan ulama. Sejumlah naskah keagamaan menggunakan bahasa Arab dilengkapi terjemahan bahasa Melayu, walaupun tetap ditulis dengan huruf Arab. Naskah-naskah sastra, antara lain hikayat yang berbentuk prosa maupun syair, serta berbagai kisah dalam naskah-naskah pada masa Kesultanan lebih banyak ditulis dengan tulisan Arab dalam bahasa Melayu (Arab Melayu). Kegiatan surat-menyurat, antara lain dari kepada Gubernur Batavia yang ditemukan dalam bahasa Arab Melayu.

Djohan Hanafiah dalam buku Masjid Agung, Sejarah dan Masa Depan (1988) menyebutkan, Abdul Samad Al Palembani (1704-1788) adalah salah satu penulis sastra keagamaan yang paling menonjol pada masa Kesultanan. Palembani menuntut ilmu di Makkah dan belajar tarikat pada Muhammad al Saman di Madinah. Sebagian karya Palembani ditulis ketika ia masih berada di negeri Arab.

Karya-karya Palembani antara lain Hikayat Al-Salikin dan Syair Al-Salikin yang merupakan terjamahan karya Al Ghazali. Disamping dua kitab berbahasa Melayu tersebut, terdapat pula Zahrat al Murid fi Bayan Kalimat al Tauhid, dan lima kitab keagamaan lainnya yang berbahasa Arab. Sebagian buku-buku Al Palembani merupakan naskah yang masih tersimpan diberbagai perpustakaan, antara lain di perpustakaan Museum Nasional Jakarta, Perpustakaan Universitas Leiden Belanda, dan Russian Institute of Oriental Studies di Leningrand Rusia. (adm/dil)

Artikel Terkait