Laskarwongkito.com – Setiap kota di belahan dunia memiliki keunikan dan sejarah yang berbeda. Bahkan beberapa di antaranya merupakan kota-kota dengan usia yang cukup tua.

Dari beberapa kota tersebut, Palembang merupakan salah satunya. Sebagai eks jajahan kolonial Belanda yang menjajah nusantara selama hampir 350 tahun, banyak peninggalan peradaban besar dan maha karya yang luar biasa.

Baik dari sistem hukum, pendidikan, pertanian, hingga peninggalan bangunan khas Eropa yang bernilai artistik tinggi, kental dengan ornamen indah nan menawan.

Di sepanjang Sungai Musi, banyak sekali warisan berupa saksi-saksi bisu sejarah kehidupan masyarakat kota Palembang di zaman tersebut. Di antaranya adalah gedung-gedung tua ala Eropa yang menghiasi beberapa sudut kota Palembang.

Gedung-gedung tua khas arsitektur Eropa ini menjadi pesona tersendiri di kota Palembang, selain indah dipandang mata, juga memiliki nilai-nilai sejarah.

22267_1203444403121_1138941036_30460008_4359703_n

(sumber foto: 1.bp.blogspot.com)

Di antaranya adalah Gedung kantor walikota yang dahulunya adalah kantor ledeng, tempat menampung air bersih untuk didistribusikan ke wilayah kota ini masih berdirih kokoh dan terawat.

Kantor ledeng ini dibangun pada masa walikota Palembang dijabat Ir. RCAFJ Le Cocq d Armandville. Berada di sekitar jalan Tasik saat ini. Kabarnya, pembuatan gedung ini menghabiskan dana setara 1 ton emas. Bangunan ini dibangun pada tahun 1928 dan selesainya pada tahun 1931, didirikan dengan gaya de stijl (gaya bentuk yang abstrak namun sederhana seperti garis dalam horizontal dan vertikal).

Bangunan ini dijadikan kantor Syuco-kan (kantor Residen) di masa penjajahan Jepang dan terus dimanfaatkan sebagai Balai Kota sampai tahun 1956. Bangunan kator walikota Palembang sejak awal telah digunakan sebagai pusat pemerintahan Gemeente (kotamadya) Palembang.

7371178922_98f12cd94e_b

(sumber foto: c3.staticflickr.com)

Meskipun beberapa gedung peninggalan ada yang terawat dengan baik, namun sebagian ada juga yang terbengkalai dimakan usia. Seperti bangunan eks Kantor Jacobson van Den Berg.

Kantor ini merupakan salah satu bangunan tua sisa kolonial Belanda yang berada di jalan Sekanak tepat di persimpangan Balai Pertemuan (kini kantor Pol PP-red). Sayangnya bangunan eks kantor Jacobson van Den Berg ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

Keberadaan kantor ini di Palembang belum diketahui kapan pastinya berdiri, namun fungsi dari gedung ini bergerak dibidang asuransi dan perdaganagn (ekspor-impor), termasuk membentuk kongsi di Palembang untuk pembelian karet dan kopi.

PASAR STAAT

(sumber foto: 3.bp.blogspot.com)

Selain bangunan eks kantor van Jacobson van Den Berg, masih banyak lagi nasib serupa yang dialami gedung-gedung tua ala Eropa tersebut. Seperti keberadaan gedung-gedung tua arsitektur Belanda di wilayah Tangga Buntung, yang keberadaannya tidak jauh dari Jembatan Ampera.

Namun tidak seperti halnya Jakarta maupun Semarang yang memiliki wilayah kota tua yang terpusat, di Palembang bangunan-bangunan tua tersebut tersebar di sudut-sudut kota, tak jarang ada bangunan yang tidak terawat dan hancur menjadi kenangan belaka dari nenek ataupun kakek yang menceritakan kemegahan gedung-gedung tua ala Eropa ke cucunya.

Tak ayal jika kita berfikir menganggap gedung itu layaknya manusia, pasti gedung-gedung tersebut akan menjerit sekeras-keras agar suaranya didengar. Walaupun banyak para pecinta budaya yang ingin menghidupkan kembali bangunan klasik di Kota Palembang, namun banyak terkendala oleh berbagai hal. (red/dil)

Artikel Terkait