PALEMBANG — Adanya aturan pembatasan usia yang akan diterapkan di kompetisi Liga 1 Indonesia mendapat tanggapan dari TA Mushafry. Pemain senior Sriwijaya FC mengaku sangat kecewa dengan kebijakan baru ini dan menyebut hal ini seperti sebuah pelanggaran Hak Asasi Manusia.

“Di banyak negara, kompetisi tertinggi atau profesional tidak mengenal pembatasan usia, bukan soal muda atau tua tetapi hanya ditentukan kualitasnya,” ungkap pemain asal Ternate ini saat ditemui Jumat (31/3) sore. Jika mendapat kesempatan, eks pemain timnas ini pun berdialog dengan PSSI terkait hal ini.

“Saya pikir tanpa aturan itu, pesepakbola yang berusia 35 tahun keatas sudah tidak banyak dan seleksi alam akan terjadi. Kkub juga tentu tidak akan sembarang memilih pemain dan hanya melihat kualitasnya,” jelasnya.

Diakuinya, dengan melihat kondisi kebugarannya saat ini, Mushafy mentargetkan tetap akan bermain setidaknya 2-3 musim lagi. “Saya merasa masih bugar dan bisa bersaing. Tapi dengan adanya aturan ini seperti dipaksa pensiun dini. Di Liga 1 sendiri masih sedikit beruntung tetap mendapat kuota, tapi bagaimana nasib rekan-rekan lain yang bermain di Liga 2 atau dibawahnya,” tambahnya.

Ditegaskannya, sama seperti pesepakbola lainnya, pemain yang berusia 35 tahun ke atas juga punya tanggungan yang harus dinafkahi. “Kalau seperti ini, bagaimana nasibnya dan kasihan istri atau anaknya juga terkena imbasnya,” keluhnya.

Di skuad laskar wong kito, Mushafry sendiri memang menjadi pemain yang saat ini termasuk ke dalam golongan tersebut. Namun karena dianggap masih cukup mumpuni, tenaga pemain yang bisa bermain di banyak posisi ini akhirnya tetap dipertahankan semusim kedepan. “Setiap tes fisik, VO2 Max-nya selalu di atas pemain lain, selain kualitasnya pun masih dibutuhkan oleh pelatih. Kami juga mempertahan Mushafry agar pemain muda SFC melihat contoh secara langsung bagaimana seorang pesepakbola profesional menjaga kondisinya,” ungkap sekretaris tim SFC, Achmad Haris saat dimintai pendapatnya mengenai Mushafry. (dedi)

Artikel Terkait