Laskarwongkito.com — Bila Anda berkunjung ke taman Righteous Among the Nations di Israel, Anda akan mendapati dua nama orang Indonesia tertera di sana: Mima Saina dan Tole Madna. Kawasan tersebut merupakan taman monumen yang disediakan bagi orang-orang non Yahudi dan telah berjasa besar dalam menyelamatkan orang Yahudi dalam peristiwa Holocaust.

Mima-Saina

(sumber foto: blogspot.com)

Lalu, bagaimana kisahnya sampai nama dua orang tersebut bisa tercatat di sana? Tidak banyak informasi tentang kedua orang itu. Namun, berdasarkan catatan Congressional Record, disebutkan bahwa Tole Madna merupakan orang Indonesia beragama Katolik yang menetap di Belanda, sedangkan Mima Saina adalah pembantu Tole yang beragama Islam.

Dari arsip situs United States Holocaust Memorial Museum, disebutkan bahwa kedua orang itu pernah menolong bayi Yahudi bernama Alfred Munzer, pria yang kelak menjadi ahli penyakit dalam dan spesialis paru, serta pernah menjabat sebagai Presiden Asosiasi Ahli Paru Amerika Serikat.

Alfred Munzer merupakan putra dari pasangan Simcha dan Gisele Munzer yang tinggal di Belanda. Pada tahun 1941, Belanda diinvasi oleh Jerman. Perburuan orang-orang Yahudi di Belanda membuat pasangan itu harus melakukan sesuatu agar anak-anaknya selamat.

Dua kakak Alfred, dititipkan pada tetangga mereka. Sementara Alfred, dititipkan pada Tole Madna, seorang imigran asal Indonesia. Selama itu, Alfred menganggap Mima yang merupakan pembantu Tole sebagai ibu angkatnya.

94482-x700

(sumber foto: ushmm.org)

Menurut Alfred, lagu “Nina Bobo” yang dinyanyikan Mima pernah menyelamatkan nyawa mereka. Berkat lagu itu, Alfred tidur pulas saat tentara Nazi melakukan penggeledahan sehingga Alfred aman disembunyikan. Bahkan, Mima pernah berjalan bermil-mil demi mendapatkan susu bagi Alfred.

Setelah perang usai, Gisele yang selamat pun kembali tinggal bersama Tole dan Mima. Hal itu dilakukan agar Alfred bisa beradaptasi dan menerima Gisele yang merupakan ibu kandungnya.

Atas jasa Tole dan Mima yang melindungi Alfred dengan segenap nyawa mereka, Congregation Agas Israel di Washington D. C. merekomendasikan nama mereka menjadi pahlawan. Pada tahun 2003, nama mereka pun diukir di taman monumen Righteous Among the Nations. (red)

Artikel Terkait