Publik sepakbola dibuat terkejut usai pelaksanaan SEA Games 2015, pasalnya timnas U23 yang gagal di babak semifinal diguncang isu pengaturan skor (match) selama mengikuti pesta olahraga terbesar di Asia Tenggara tersebut. Tidak hanya timnas U23, pihak Tim Advokasi #IndonesiaVSMafiaBola juga menyebut selama kurun waktu 2000-2015 juga terhadi banyak skandal pengaturan skor yang dimainkan di kompetisi Indonesian Super League.

Laporan Tim Advokasi #IndonesiaVSMafiaBola ke Bareskrim Mabes Polri pada Selasa (16/6) kemarin pun mendapat tanggapan dari manajemen Sriwijaya FC. Pasalnya dalam laporan Tim Advokasi #IndonesiaVSMafiaBola tersebut, juga disebut beberapa pihak lain seperti pemain, manajer klub hingga pengurus PSSI yang terlibat dalam praktek kotor tersebut.

“Yang pasti kita mendukung karena ini juga demi kemajuan sepakbola nasional. Namun memang sebaiknya juga disertai bukti yang kuat, karena kalau tidak maka bisa saja hanya menjadi fitnah,” ujar manajer laskar wong kito, Robert Heri saat dikonfirmasi Rabu (17/6) sore.

Saat ditanya apakah pernah menerima tawaran match fixing selama memimpin SFC, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sumsel ini dengan tegas mengatakan bahwa dirinya tidak pernah dihubungi atau terlibat praktek pengaturan skor. “Belum pernah dan hanya akan merugikan. Karena sebenarnya apa yang dikeluarkan tim selama ini jauh lebih besar, tidak sebanding dengan apa yang sudah kita lakukan selama ini dan mencederai sportifitas,” jelas manajer yang sudah memimpin SFC selama dua musim terakhir ini.

Namun dirinya tidak menampik jika selama memimpin SFC selama ini, tak jarang ditemui beberapa kejadian yang dapat dicurigai telah terjadi match fixing. “Mungkin bukan pengaturan skor, namun misalnya saja tiba-tiba pemain kita diberi kartu kuning atau kartu merah agar absen di laga berikutnya. Lalu gol kita yang bersih namun dianulir wasit tanpa penjelasan yang masuk akal, namun biarkan saja hal ini diusut oleh pihak yang berwajib,” tambahnya.

Artikel Terkait