Manajemen Sriwijaya FC terus berpikir keras untuk menyelamatkan karier seluruh pemainnya yang sampai saat ini masih terikat kontrak dengan laskar wong kito. Satu-satunya jalan yang dapat mengembalikan kondisi seperti semula adalah tersedianya kompetisi bagi pemain.

“Sejauh ini kita masih memilah dan mempelajari berbagai kemungkinan yang ada, termasuk juga turnamen yang katanya akan diselenggarakan oleh tim transisi bentukan Menpora,” ujar sekretaris tim SFC, Ahmad Haris saat dikonfirmasi Jumat (5/6) siang.

Menurutnya, vakumnya kompetisi pasca konflik berkenpanjangan Menpora – PSSI dampaknya kini sudah sangat luas. Tidak hanya pemain atau pelatih, tapi juga masyarakat kecil yang menggantungkan hidupnya dari bergulirnya kompetisi sepakbola di tanah air.

“Menpora butuh PSSI dan begitu juga sebaliknya, kalau saja keduanya bisa lebih bekerjasama dengan baik untuk menyelesaikan seluruh persoalan yang ada,” jelasnya. Diakuinya, untuk menggelar sebuah kompetisi maka Menpora pasti membutuhkan klub peserta dan hal ini merupakan wilayah PSSI. Sementara jika PSSI yang berkeinginan kembali memutar turnamen atau kompetisi, maka perlu izin keamanan yang belakangan rekomendasinya sulit didapatkan pasca pembekuan organisasi oleh Menpora pada 17 April lalu.

“Saya pribadi melihat Menpora – PSSI bisa berkaca dari mundurnya Sepp Blatter dari jabatan ketua FIFA untuk menyelamatkan organisasinya. Jika kedua pimpinan lembaga di Indonesia yang sedang berseteru ini mampu berpikir jernih dan mementingkan kepentingan orang banyak serta legowo mengesampingkan egonya, maka sebutan pahlawan sepakbola nasional layak disematkan,” tambahnya.

Namun dirinya sendiri enggan berandai-andai mengenai kepastian SFC mengikuti kompetisi bentukan tim transisi. “Belum ada arah kesana karena undangannya pun belum kami terima. Sebagai masyarakat pecinta sepakbola, ini juga semacam ujian buat tim transisi, apakah mampu menggelar sebuah turnamen dan menarik minat dari klub-klub di tanah air,” pungkasnya

Artikel Terkait