PALEMBANG — Pelatih Sriwijaya FC, Oswaldo Lessa mengaku dirinya sudah mempersiapkan diri terhadap semua kemungkinan yang akan dihadapinya usai laga melawan Mitra Kukar, Rabu (7/6) malam di stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang. Di laga ini posisi Lessa sebagai pelatih kepala laskar wong kito memang akan dipertaruhkan dan hanya kemenangan yang akan mampu menyelamatkan arsitek asal Brasil ini.

“Memang benar saya sudah dipanggil oleh manajemen dan menjelaskan situasi yang harus saya hadapi kedepannya. Mereka mengatakan bahwa saya hanya punya 1 kesempatan terakhir saat melawan Mitra Kukar untuk memperbaiki tim. Jika tidak menang, maka bisa dipastikan manajemen SFC akan mencari pelatih baru nantinya,” ungkapnya.

Hal ini sendiri dianggap wajar oleh Lessa dan manajemen SFC menyebut hal ini sebagai upaya untuk memperbaiki tim. “Di Brasil hal seperti ini biasa, dan menurut saya memang lebih gampanbg mengganti 1 orang pelatih ketimbang 11 pemain. Tidak cuma di Brasil, tapi di seluruh dunia juga terjadi,” ujarnya.

Menurutnya, saat memutuskan menggeluti karier sebagai pelatih sepakbola, dirinya sudah mengetahui bahwa hal seperti ini bisa saja terjadi kepada dirinya. “Saya tidak mungkin tidak siap, karenahal seperti ini bisa terjadi kapanpun dan inilah hidup. Karena itu saya selalu berpesan kepada seluruh pemain agar tidak terlena setelah meraih 1 kemenangan saja. Soal tekanan tentu tidak juga bisa dihadapi hanya omongan, harus dijawab di lapangan, saya masih ingin melatih di SFC karena itu mesti menang nantinya,” tekadnya.

Sementara itu, hal ini juga sempat menjadi pemikiran Jafri Sastra, pelatih kepala Mitra Kukar. “Saat tiba di Palembang, saya sempat merenungi hal ini. Bukan karena pelatih SFC tengah terancam, namun banyak rekan seprofesi saya yang juga mengalami hal sama. Musim lalu sayapun sudah pernah di posisi seperti mereka,” ungkap Jafri.

Diakuinya, kondisi seperti ini tidaklah memberikan pengaruh positif bagi sepakbola di tanah air. “Itu jadi pemikiran saya, karena jika acuannya adalah sepakbola Eropa yang lebih baik, maka apa yang terjadi di Indonesia belakangan ini, terutama bagi pelatihnya bukanlah faktor positif,” keluhnya.

Jafri memberikan contoh bagaimana pelatih di daratan Eropa biasanya mendapatkan kontrak panjang hingg 3-4 tahun. “Karena itu saya senang saat Indra Sjafri mendapat kontrak panjang dari Bali United kemarin, karena ada waktu untuk membangun tim. Sekarang saat berganti pelatih ke WCP hasilnya juga masih cukup baik,” contohnya.

Namun dirinya tidak menampik bahwa di sepakbola dalam negeri masih dipengaruhi oleh banyak faktor. “Ada kecemasan dari manajemen atau para pendukung, namun seharusnya kebijakan tidak popular seperti itu tidak terjadi. Di Eropa, Pep Guardiola atau sekelas Mourinho pun sama, mendapat dukungan dan kepercayaan terlebih dulu. Tekanan pasti ada dan tidak ada jaminan di musim ini kita juara, maka kedepan tidak ada kesulitan, tetapi jika semua kondisi diperlakukan sama, maka rasanya kurang bijak. Ada baiknya kita belajar hal positif dari sepakbola belahan dunia seperti Eropa,” tambahnya. (dedi)

Pemain Kunci :

Alberto Goncalves (SFC)

Di tengah kondisi SFC yang menurun, harapan besar ditaruh ke pundak Alberto Goncalves. Melawan Mitra Kukar, ketajaman striker asal Brasil ini diharapkan dapat kembali. Apalagi berstatus sebagai top skor kompetisi musim lalu, banyak pihak menyebut bahwa kunci keberhasilan SFC untuk bangkit berada di kakinya.

Namun Beto sendiri mengaku bahwa musim ini dirinya mendapatkan perlakuan berbeda dari para pemain lawan. Tidak jarang, 2-3 hingga pemain langsung menutup pergerakannya di lapangan. “Tugas bikin gol bukan cuma saya, jadi pemain lain juga sama. Tetapi saya senang karena seluruh pemain tetap kompak dan mau kerja keras, soal catatan gol saya sedih jika gagal bikin gol saat mendapat banyak peluang, tapi jika tidak ada kesempatan maka sebagai tim kita perlu bekerja lebih baik lagi,” ungkapnya.

Mohammed Sissoko  (Mitra Kukar)

Perlahan namun pasti, Mohammed Sissoko menjelma menjadi pemain kunci bagi Mitra Kukar. Tidak hanya sebagai penyeimbang di lini tengah, namun eks pemain Liverpool ini mampu memberikan kontribusi positif saat menyerang. Bahkan torehan 3 gol sudah diciptakannya dari 8 pertandingan yang sudah dimainkannya sejauh ini bersama skuad Naga Mekes.

“Kami harus mewaspadai marquee player Mitra Kukar, tidak hanya badannya yang kokoh, namun juga umpannya sangat terukur dan mampu membaca permainan dengan baik. Saat menyerang, dia juga bisa memecah kebuntuan dan mencetak gol. Tentu saya akan mewaspadai pergerakannya nanti,” ungkap pelatih SFC, Oswaldo Lessa saat dimintai komentar mengenai pemain paling berbahaya di kubu Mitra Kukar.a

Artikel Terkait