PALEMBANG – Desa Perigi , Talang Nangka kabupaten Ogan Komering Ilir  (OKI) merupakan kawasan lahan gambut yang ada di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dan tengah menjadi sorotan dunia karena dikonsentrasikan sebagai objek program restorasinya pemerintah.

Setidaknya ada 865 hektare lahan gambut di desa Perigi yang direstorasi untuk dijadikan sebagai lahan cetak sawah, namun baru ada 562 hektar yang sudah terealisasi walaupun pengelolaan cetak sawah dikategorikan belum berhasil.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Perigi Bersatu Makmur, Eddy Saputra menjelaskan bahwa program cetak sawah ini merupakan upaya untuk mengurangi kegiatan membakar untuk membuka lahan pertanian.

(Sumber Foto : laskarwongkito.com)

Sebelumnya, masyarakat Perigi terbiasa menanam padi dengan cara bersonor, yaitu sistem penanaman padi tradisional di areal rawa, yang hanya dilakukan pada saat musim kemarau panjang (paling sedikit ada 5-6 bulan kering). Api digunakan dalam persiapan lahan. Sebanyak mungkin areal rawa dibakar tanpa usaha untuk mengontrol pembakaran. Padi ditanam dengan cara disebar.

“Pada awal akhir 2015 warga desa di berikan lahan untuk merubah pola sonor, kita mencoba tehnologi cetak sawah demi mengurangi kegiatan Sonor (membakar Lahan) namun hasilnya belum maksimal, karena di ketahui cetak sawah baru bisa maksimal ketika masuk 5 gerenasi tanam artinya sekitas 5 tahun,” kata dia saat awak media bersama Tim Center for International Forestry Research (CIFOR) dan Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) melakukan kunjungan ke Desa Talang Nangka, beberapa waktu lalu.

Diungkapkan Eddy, dalam rangka restorasi lahan gambut, Desa Perigi Talang Nangka telah melakukan swadaya untuk membuat kanal sepanjang 30 Kilometer untuk menerapkan pola cetak sawah. Untuk membuat kanal ini anggota kelompok tani melalui perjuangan mengumpulkan dana sebesar 330 Juta dengan cara angsuran dan pada 2015 kanal tersebut selesai.

Selain tidak maksimal, dijelaskan Eddy bahwa masyarakat Desa Perigi saat ini bukan kelompok masyarakat petani, maka diperlukan bantuan pemerintah untuk pengetahuan tehnologi cetak sawah. “Kami berharap pemerintah untuk memberikan bantuan tehnologi, demi mendapatkan hasil maksimal dengan satu tujuan mengurangi pembakaran lahan,” tambahnya.

Sementara, Joni Saputra, Petani desa Perigi mengungkapkan pada tahun 2016 lalu, Dinas Pertanian kabupaten OKI memperkenalkan skema metode baru untuk menanam padi yakni cetak sawah.

“2016 sempat nanam padi dengan metode cetak sawah, namun gagal tidak bisa nanam karena kondisi air yang tinggi, disamping itu kita juga tidak mendapat pendampingan secara berkelanjutan dari pihak terkait untuk mengolah cetak sawah ini,” tukasnya. (juniara)

Artikel Terkait