PALEMBANG — Meski belum pernah bermain bersama, namun Sandi Firmansyah menyebut dirinya begitu shock mendengar wafatnya Chairul Huda. “Tadi begitu mendarat di Jakarta dan dikabari mengenai hal ini, rasanya saya seperti ditembak di bagian dada karena sangat kaget, perlu beberapa kali meyakinkan diri untuk sadar bahwa benar ada musibah ini,” ujarnya saat dihubungi Minggu (15/10) malam.

Menurut Sandi, banyak hal yang bisa dipelajarinya dari sosok penjaga gawang senior ini. “Tetapi yang paling utama tentu soal kesetiannya, dia sudah memperkuat Persela saat masih di divisi dua, kemudian membawa promosi dan terus bertahan. Dulu di tahun 2014 sebenarnya bang Huda sudah sempat berlatih bersama saya di Persegres, namun karena kecintaannya yang luar biasa kepada Persela maka dirinya batal pindah,” kenangnya.

Selain itu, Huda juga dianggapnya sebagai figur pekerja keras dan mampu menunjukkan bagaimana sebuah prestasi tidak diraih dengan instan. “Saya ingat di beberapa musim banyak pihak yang menilainya sudah habis, tetapi almarhum tidak menyerah dan memberi jawaban melalui kerja di lapangan,” ujarnya. Sandi pun menyebut tahun ini sebagai periode kelam bagi pesepakbola khususnya penjaga gawang di tanah air. “Rasanya belum lama kita harus sedih karena kehilangan Ahmad Kurniawan, kini kembali harus merelakan Chairul Huda. Kami semua di SFC sangat berduka,” jelasnya.

Hal senada juga dikatakan oleh Teja Paku Alam, penjaga gawang muda SFC yang menilai figur Chairul Huda merupakan panutan bagi dirinya. “Dengan apa yang sudah ditunjukkannya selama ini, maka memang wajar beliau dianggap sebagai seorang legenda di tanah air. Bahkan mungkin bisa dianggap sebagai Buffon-nya Indonesia, kami penjaga gawang muda sangat berharap bisa punya rekam jejak dan prestasi sepertinya,” ujarnya singkat. (dedi)

Artikel Terkait