Laskarwongkito.com-Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon harus undur diri dari panggung World Tour Finals 2018. Cedera leher yang dirasakan Marcus sejak pertandingan penyisihan grup pertama, ternyata tak kunjung membaik, maka pasangan rangking satu dunia ini memutuskan mundur sebelum laga penyisihan terakhir, melawan Han Chengkai/Zhou Haodong (Tiongkok).

Marcus mengatakan ia tak ingin memaksakan bertanding dan mengambil risiko, karena nyeri yang dirasakan sudah menjalar ke matanya.

“Nggak mau maksa lagi, lebih baik istirahat karena tahun depan banyak turnamen yang harus diikuti, saya mau fokus di tahun depan saja. Tidak tahu juga kenapa bisa kena, mungkin saat bermain dan ada pengaruh dari udara yang dingin dan shuttlecock yang lambat,” kata Marcus saat diwawancara.

Marcus juga mengatakan bahwa meskipun tak bisa mempertahankan gelar juara, namun ia dan Kevin cukup puas dengan capaian tahun ini. Kevin/Marcus meraih delapan gelar world tour serta satu medali emas Asian Games 2018. Pasangan yang dijuluki Minions ini juga dua tahun berturut-turut dinobatkan sebagai pemain putra terbaik tahun 2017 dan 2018 dari Badminton World Federation.

“Kami cukup senang dengan hasil di 2018. Untuk tahun depan, kami harap hasilnya bagus seperti tahun ini. Kalau bisa sih lebih, kalau tidak bisa, ya setidaknya menyamai hasil tahun ini. Kami dapat sembilan gelar, hasil yang bagus buat kami, dan ini lebih baik dari hasil tahun lalu dengan tujuh gelar. Di turnamen ini kami tetap bersyukur, karena kami sudah mencoba yang terbaik. Tahun depan tentunya mau gelar juara dunia dan juara lagi di world tour finals,” ucap Marcus. 

Kevin/Marcus memang menguasai peta ganda putra dunia sepanjang tahun 2017 dan 2018. Akan teapi, ada dua kekalahan yang belum dibayar mereka atas satu lawan dari Tiongkok, yaitu Han/Zhou.

“Menurut saya mereka memang bermain sangat baik. Tapi pasangan lain juga kok. Semua tergantung bagaimana di persiapan dan fokus di lapangan,” ujar Marcus.

Sementara itu, pelatih ganda putra Aryono Miranat yang mendampingi Kevin/Marcus di turnamen ini mengatakan bahwa kali ini Kevin/Marcus memang harus mengakui keunggulan Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok), yang mengalahkan mereka di laga penyisihan grup. Disamping kondisi Marcus yang tidak seratus persen. Di atas kertas, Kevin/Marcus yang unggul 8-1 di rekor pertemuan, sebetulnya punya peluang besar untuk menang atas Li/Liu.

“Memang kurang bagus dari segi hasil, tapi inilah permainan, kadang menang kadang kalah. Secara persaingan, di sini ada delapan pasangan terbaik, jadi memang ramai. Sebenarnya semua grup sama beratnya, buktinya Kevin/Marcus unggul 8-1 atas Li/Liu, bisa kalah juga, bukan jaminan bisa menang walaupun sudah unggul jauh di rekor pertemuan,” jelas Aryono.

Aryono menilai performa Kevin/Marcus sepanjang tahun ini cukup memuaskan. Tak hanya unggul dari segi teknik, mereka pun punya kekuatan di sisi non-teknik.

“Tiap pemain sekarang pasti mau mengalahkan Kevin/Marcus. Kevin/Marcus harus lebih siap menghadapi siapa pun, terutama pemain Tiongkok yang sangat ingin mengalahkan mereka. Perlu ketenangan, fokus dan mental yang kuat,” kata Aryono.

“Kevin/Marcus punya mental bertanding yang bagus, namun kadang yang namanya manusia pasti ada saja rasa kurang tenang, cemas. Tapi hebatnya mereka itu, bisa mengatasi rasa cemas, takut. Musuh paling utama itu adalah diri sendiri, pikiran sendiri, Kevin/Marcus juga fighting spiritnya bagus. Di lapangan walau sudah tertekan, bisa membalikkan keadaan lagi,” pungkasnya. (Red/riil)

RelatedPost