PALEMBANG — Bencana kabut asap pada tahun 2015 lalu benar-benar menjadi pelajaran tersendiri bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) untuk mencegah bencana serupa agar tidak terjadi lagi.

Apalagi pada Agustus tahun depan, Sumsel akan menjadi tuan rumah hajatan internasional Asian Games dan kegiatan tersebut tidak akan terjadi jika karhutla dan bencana kabut asap masih menghantui Sumsel. Oleh karena itu bencana kabut asap harus diantisipasi agar tidak mencoreng muka Sumsel dan Indonesia di mata internasional.

Bahkan Kepala Staf Kepresidenan RI, Teten Masduki datang langsung ke Palembang, Sumsel untuk memantau kesiapan Sumsel dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan bencana asap.

Mewakili Presiden Joko Widodo, Teten mengungkapkan bahwa pemerintah pusat memberikan arahan pada semua daerah yang berpotensi terhadi karhutla agar mampu menanggulangi karhutla.

“Tahun ini diperkirakan musim kemarau lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya, sehingga kami ingin memastikan semua unit yang bekerja baik mulai dari pecegahan sampai ke penanggulangan asap harus betul-betul siap,” ujar Teten saat memantau persiapan penanggulangan karhutla di Griya Agung, Sabtu (18/02).

Dilanjutkannya, karena tahun 2018 akan diadakan Asian Games di Palembang dan Jakarta, maka tahun ini menjadi tahun persiapan siaga karhutla sejak dini.

“Instruksi pak presiden kepada kami seperti itu. Soal asap dan penanggulangan bencana karhutla ini menjadi perhatian presiden,” kata pria berkepala plontos ini.

Teten mengungkapkan, beberapa waktu lalu Presiden Joko Widodo (Widodo) telah memanggil Badan Restorasi Gambut (BRG) untuk memastikan restorasi gambut seluas 400 ribu hektar, tahun ini bisa tercapai. Untuk itu, kata Teten, pemerintah telah bekerjasama denagn berbagai pihak, diantaranya pengelola kebun, karena sebagian besar lahan gambut yang direstorasi ada di wilayah kebun.

“Kebun harus punya manajemen pengelolaan gambut yang baik. Ada alat deteksi elektronik yang harus bisa mengukur permukaan di lahan gambut. Lalu fasilitas lain seperti sumur bor di setiap titik dan tower untuk pemantauan. Kemudian nanti akan kita lakukan audit, Kementerian Lingkungan Hidup akan lakukan itu supaya pengelola kebun betul-betul menjaga konsesi lahan dengan baik,” jelas Teten.

Berdasrakan pantauan di Griya Agung, peralatan dan perlengkapan yang dipamerkan untuk menanggulangi karhutla diantaranya spray pump water atau mesin pompa dan penyemprot air, water tube atau tabung penyemprot bakal api, floating pumpatau pompa apung untuk menyedot air yang sulit dijangkau, rubber tube atau selang air dan portable fire pump atau pompa isi ulang penyemprot api.

Tidak ketinggalan perlengkapan lainnya seperti helikopter, pesawat ultralight untuk memantau titik api dan motor trail untuk menjangkau lahan gambut yang sulit diakses.

Bagi daerah yang terkena karhutla, Pemprov dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menyiapkan tandu dan tenda di setiap posko yang tersebar di setiap titik karhutla.

Menurut Gubernur Sumsel, Alex Noerdin, seluruh perlengkapan tersebut untuk mengantisipasi kebakaran khususnya di lahan gambut.

“Insya Allah jika memang terjadi kebakaran, alat-alat ini dapat difungsikan dengan maksimal. Namun yang penting itu pencegahan kebakaran sejak dini. Persiapan kita kali ini lebih siap dan alat-alat kita canggih,” kata Alex.

Persiapan lainnya, Pemprov Sumsel saat ini menyediakan 5000 ribu personil pemadam kebakaran yang diturunkan di posko. Pun dengan personil yang diturunkan di lapangan atau lahan maupun titik api yang jumlahnya tidak kalah banyak.

Canal blocking yang difungsikan memelihara air supaya lahan gambut tetap basah, lanjut Alex, juga dipersiapkan di lahan gambut.

“Canal blocking ini patungan antara pemerintah pusat dan Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan, Pemprov, kabupaten, kota dan swasta,” terangnya.

Alex juga mengklaim, seluruh perusahaan perkebunan di Sumsel sudah mematuhi instruksinya untuk mendirikan posko kebakaran dan menara satelit pemantau kebakaran serta satelit mini yang disiagakan 24 jam untuk memantau titik api.

“Mereka (perusahaan) sudah siap beroperasi dan diwajibkan bagi setiap perusahaan. Bahkan PT Sinarmas punya menara pemantau setinggi 72 meter untuk kontrol titik api. Jadi persiapan kita harus betul-betul untuk penanggulangan karhutla ini,” tegasnya. (juniara)

Artikel Terkait