Laskarwongkito.com – “Racun tikus, racun tikus.” Kalimat itu terdengar lantang melalui alat pengeras suara. Suara khas ini sudah sangat dikenal oleh warga Kota Palembang. Bermodal sepeda yang dimodifikasi sedemikian rupa, pria paruh baya tersebut mengelilingi seantero Kota Palembang.

Itulah, suara khas milik Raden Muhammad Dencik , yang biasa dipanggil Pak Den.

4028610p

(sumber foto: assets.kompas.com)

Pekerjaan Pak Den sehari-hari memang berdagang alat pembasmi tikus, seperti racun, jebakan, dan lem tikus. Setiap hari Pak Den melewati jalan-jalan utama di kota itu dan masuk keluar kampung untuk menjajakan dagangannya.

Barang dagangan itu diletakkan dalam sepeda yang telah dibentuk sehingga memiliki empat roda. Satu roda di depan dan tiga roda di belakang, serta memiliki atap. Sepeda itu dilengkapi alat pengeras suara dengan aki sebagai sumber tenaga listriknya.

Pak Den seperti paham betul tentang branding. Selain supaya lebih meriah, ia juga memasangkan sepedanya dengan lampu sirene warna merah dan kuning, sehingga mudah menarik perhatian calon konsumen.

Di bagian belakang sepeda ada ban dan pelek cadangan. Kata Pak Den, itu untuk antisipasi kalau ban pecah atau pelek bengkok. Penampilan Pak Den juga unik. Ia selalu memakai helm warna putih dengan tulisan RCN TKS (singkatan dari racun tikus), sepatu bot karet hitam, dan sarung tangan hitam.

Aksi Pak Den saat berjualan, cukup membuat orang berpaling dan tersenyum. Pasalnya, cara Pak Den cukup unik dalam menjajakan dagangannya yang tidak lazim.

Namun, karena tak lazim itulah dagangannya menjadi laris manis. Karena hingga kini, ia juga belum memiliki saingan.

PIC_2089

(sumber foto: 4.bp.blogspot.com)

Pak Den tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan, Lorong Wiraguna, Palembang. Menurut penuturannya kepada sebuah media, setiap hari Senin sampai Sabtu akan jualan keliling Palembang.

Rutenya, hari Senin dan Selasa ke daerah Perumnas Kenten, Rabu ke Kertapati, Kamis ke Musi II, Jumat ke Plaju, Sabtu kembali ke Perumnas Kenten.

Setiap hari dia bekerja mulai pukul 13.00 hingga pukul 20.00, bahkan kadang sampai pukul 21.00. Berarti setiap hari ia sudah menempuh jarak puluhan kilometer dengan mengayuh sepeda. Itu sebabnya banyak warga Palembang akrab dengan suaranya.

Dia mengaku mulai berjualan racun tikus sejak tahun 2006 di Pasar 16 Ilir. Saat itu ia berjalan kaki sambil menenteng pengeras suara. Tahun 2007 Pak Den bisa membeli sepeda dari hasil berjualan racun tikus.

Kenapa memilih berjualan racun tikus? Karena di mana-mana pasti banyak tikus.

1398308561172808491

(sumber foto: assets.kompasiana.com)

Dirinya mengaku pernah berjualan permen di kereta api jurusan Lampung dan Lubuk Linggau, tetapi tidak sukses. Ayah dari RA Amina Zuria (16), RM Mustofa (10), dan RM Kasirun Nawal (3), merupakan lelaki yang hanya tamatan sekolah dasar, hasil penjualannya mencapai Rp 50.000-Rp 200.000 per hari, bahkan kadang mencapai Rp 500.000. Bagi dia, berjualan racun tikus dengan mengayuh sepeda juga bermanfaat bagi kesehatan. Hingga kini dirinya tak pernah sakit.

Bahkan, ia juga mengaku, pernah ditawari oleh beberapa perusahaan farmasi dan otomotif untuk menjadi tenaga penjual, tetapi dia tetap memilih racun tikus.

Tetap sehat Pak Den. Sedikit banyak, kami cukup terhibur dengan gaya berjualanmu. Dan tentu saja, kini engkau telah menjelma menjadi ikon unik bagi Kota Palembang. (red/dil)

Artikel Terkait