Laskarwongkito.com — Seperti halnya kota-kota besar lainnya di tanah air, jika kita berkeliling Palembang tentu kita melewati jalan yang dinamai dengan nama pahlawan. Umumnya, nama pahlawan ditabalkan di jalan-jalan arteri alias jalan protokoler.
Tapi warga Palembang sebenernya pada melek nggak ya dengan nama-nama tokoh dan pahlawan lokal yang disematkan ke jalan-jalan arteri di kota pempek ini?
perundingan-cease-fire

(sumber foto: 4.bp.blogspot.com)

Jangan sampau nggat ngeh ya, berikut tim LWK akan kasih lima nama tokoh dan pahlawan Palembang yang menjadi nama jalan, yang tentunya pasti kalian sangat familiar mendengarnya. Sok disimak ya..

1. Demang Lebar Daun

Demang Lebar Daun dinisbatkan kepada jalan panjang yang menghubungkan Simpang Polda dengan Simpang Parameswara, Bukit. Menurut sejarah, Demang Lebar Daun adalah sebutan untuk nama jabatan turun-menurun yang dipegang oleh Penguasa Wilayah Lebar Daun. Lokasi ini kabarnya, tidak jauh dari Bukit Siguntang Palembang. Berdasarkan literatur, yang pertama kali menjabat Demang Lebar Daun adalah keturunan dari Raja Sulan (Bukit Siguntang). So, dapat dipastikan, Demang Lebar Daun, bukanlah satu orang, tapi beberapa orang dalam masa yang berbeda-beda.

2. Kol Haji Barlian

Nah, kalau nama pahlawan yang dinisbatkan kepada jalan yang menghubungkan Simpang Polda ke Simpang  Talang Betutu. Jadi ceritanya, Barlian ini menjadi tokoh yang cukup penting dalam revolusi fisik melawan penjajahan. Tahun 1945, Barlian mengepalai Badan Keamanan Rakyat (BKR) di daerah Bengkulu. Pada waktu yang sama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkat mayor. 1946 memimpin perlawanan bersama pemuda dan rakyat terhadap pasukan Jepang di daerah Curup (Kepahyang) dan sekitarnya.
Letkol Barlian kemudian meletakkan jabatan dan  mendapatkan hak pensiun dengan pangkat terakhir kolonel. Pada 1966-1967, menjadi anggota MPRS di Jakarta. Ia meninggal 24 September 1975, dalam status sebagai seorang purnawirawan TNI. Tepatnya dalam sebuah musibah pesawat terbang milik GIA jenis Fokker 28 “Mahakam” di kawasan Km 14 Palembang.

3. Ki Ranggo Wiro Sentiko

Meski tak terlalu banyak sumber sejarah yang menguak kehidupan tokoh yang ditabalkan kepada jalan yang berada di wilayah Ilir Barat II Palembang ini. Namun yang pastinya, Ki Ranggo Wiro Sentiko merupakan tokoh penting dan termasuk salah seorang pembesar yang menjabat sebagai menteri di masa kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (SMB I).
Berdasarkan silsilah zuriat beliau di daerah 1 Ulu, Sungi Goren, Ki Ranggo Wiro Sentiko merupakan saudara mentelu (istilah Palembang dalam menyebutkan hubungan keluarga dengan tingkatan “tiga pupu”) dengan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo.
Koran_Sindo_Nasional_2015-11-11_Daerah_Belum_Seluruh_Pejuang_Bergelar_Veteran_1

(sumber foto: 103.253.112.93)

4. Kapten A Rivai

Kapten A Rivai merupakan sosok pahlwan penting dalam pertempuran sengit lima hari lima malam yang menjadi sejarah perjuangan di Palembang. Pertempuran itu sendiri berlangung dari kurun waktu 1-5 Januari 1947. Saatitu Rivai masih berpangkat Letnan Satu (Lettu), juga menjabat sebagai Komandan Resimen Markas Divisi II.
Ia gugur di tengah pertempuran pada tanggal 2 Januari 1947, yang berlokasi di Sungai Jeruju, kawasan 8 Ilir. Padahal ketika itu Rivai sedang dirawat dalam pengawasan Dr Ibnu Sutuwo, karena mengalami luka tembak di bahu akibat insiden pertempuran selama 13 jam di kawasan Benteng, pada 29 Maret 1946.

5. Ario Dillah

Bagi yang pulang ke arah Pahlawan (sebutan untuk Taman Makam Pahlawan-red), tentu paham dengan jalan yang satu ini. Untuk kamu ketahui, Ario Dillah atau Arya Damar.
Ia adalah penguasa Palembang dengan gelar Adipati Palembang. Ketika Arya Damar menjadi Adipati Palembang tahun 1440M, ia kedatangan mubaligh Muslim bernama Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) Setelah melalui diskusi yang cukup panjang, akhirnya Arya Damar menjadi seorang mualaf, dan memiliki nama baru Arya Dillah (Abdullah). (adm3)

Artikel Terkait