Laskarwongkito.com —  Apa kabar anak-anak di Bulan Ramadhan sekarang? Paling ribut menyalakan petasan di dekat rumah, lalu dimarahin tetangga. Trus baru berlari ke lapangan.

Beda dengan zaman dahulu. Buat kamu yang berasal dari generasi 80-90an, suasana Ramadhan identik dengan suara meriam yang bersaut-sautan menandakan anak-anak di sekitar rumah sedang ngabuburit menunggu gema suara bedug dan adzan maghrib berkumandang.

Batang bambu berukuran sedang, diisi minyak tanah kembali dan lagi-lagi ditiup bambu tersebut kemudian menghasilkan suara yang sama atau terkadang sesekali suaranya terdengar ‘mengejan’.

Sayangnya ini hanya sekelumit kisah tak terlupakan yang pernah mewarnai Ramadhan, kira-kira ada yang rindu tidak ya dengan Lima Kemeriahan Ramadhan versi kita dahulu seperti yang berikut ini..

1. Gemuruh meriam bambu adalah rindu yang sempat dianggap mengganggu

(sumber foto: idntimes.com)

Ketika suara gemuruhnya terdengar, orang tua khususnya pasti merasa khawatir dan pasti memarahi ketika mengetahui anaknya sedang bermain sesuatu yang membahayakan, namun bukan anak-anak namanya jika langsung jera dan hal ini menjadi keunikan tersendiri ketika bulan Ramadhan tiba.

2. Berpuasa setengah hari tak mengapa, asalkan mau belajar berpuasa

(sumber foto: blogspot.com)

Bulan Ramadhan menjadi bulan belajar menahan diri begitulah orang tua dan guru mengaji mengatakan, mulai dari menahan haus, lapar maupun amarah sehingga tak jarang puasa menjadi kambing hitam anak-anak kecil waktu itu untuk menjahili temannya yang sedang berpuasa agar menahan diri tidak marah.

Pada masa itu sering sekali mendengar istilah puasa, Puasa Burung – Puasa kalo lapar, yo urung.  Atau istilah-istilah lain, dengan kalimat-kalimat menggelitik, sebagai sindiran dari orang tua pada anak-anak yang sedang belajar berpuasa.

3. Petasan dan kembang api adalah ritual khas Ramadhan menjadi hal yang hanya dapat dijumpai satu tahun sekali

(sumber foto: .inilah.com)

Mungkin Ramadhan belum lengkap rasanya jika tidak menghidupkan petasan dan kembang api serta bernyanyi lagu hits pada masa itu. Terasa tanpa beban, tanpa keluhan serasa lempeng saja semua dilakukan dengan suka cita.

4. Saling berbagi panganan antar tetangga, menjadi kebahagiaan kecil yang tak ternilai harganya

(sumber foto: hipwee.com)

Sesekali kita saling berbagi atau membanggakan masakan ibu di rumah sendiri percakapan antar teman ketika itu apalagi kalo bukan seputar menu buka puasa yang tentunya selalu dinanti setiap harinya, belum lagi keceriaan para orang tua yang saling bertukar makanan berbuka seperti kolak pisang bertukar dengan es buah dan lain sebagainya. Kegiatan buka bersama pun menjadi momen mendapatkan makanan banyak nan bervariasi biasanya.

5. Tarawih menjadi kegiatan yang tidak boleh ketinggalan, dikarenakan ada buku agenda Ramadhan yang menanti untuk diselesaikan

(sumber foto: emakpintar.asia)

Meskipun terkadang merasa sebal harus membawa buku agenda Ramadhan namun hal ini wajib dilakukan sebagai pertimbangan nilai agama dan tentunya tidak boleh diabaikan. Merangkum apapun yang disampaikan penceramah, mencari-cari di dinding masjid menebak siapakah yang menjadi ceramah, belum lagi harus meminta tanda tangan antri dan rebutan mengelilingi si penceramah setelah sholat tarawih usai dilakukan.

Hah, menyenangkan sekali mengenang masa-masa itu. Tak sadar jika kita sekarang sudah tua ya? Hehehe… (red/dil)

Artikel Terkait