Perhelatan turnamen Piala Presiden memang baru saja berakhir dan melahirkan Persib Bandung sebagai juara setelah mengalahkan Sriwijaya FC di partai puncak yang dimainkan di stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Minggu (18/10). Hajatan Mahaka Sports and Entertainment ini pun seolah menjadi angin segar di dunia sepakbola nasional di tengah konflik berkenpanjangan Menpora – PSSI.

Sebagai seorang pecinta laskar wong kito, mungkin judul diatas terlihat sangat provokatif, namun kami menganggap Titus Bonai dkk adalah pemenang sesungguhnya di ajang Piala Presiden kali ini. Persib Bandung memang tampil sebagai juara di partai final dan membawa pialanya, namun SFC tetap mendapat tempat di hati pecinta sepakbola setelah melihat apa yang terjadi selama masa persiapan hingga turnamen ini berakhir.

Di masa persiapan, tim kebangaan masyarakat Sumsel ini nyaris batal ikut dan baru mendapat di menit-menit akhir. Momen hari kemerdekaan 17 Agustus menjadi awal latihan perdana dan hanya diikuti oleh 9 pemain, sebuah kondisi yang tidak ideal untuk mengikuti sebuah turnamen besar.

Berbicara mengenai pemain, SFC pun menunjukkan kedewasaannya dengan mengikuti aturan dari Mahaka sejak awal turnamen. Negosiasi dengan beberapa pemain Persipura dihentikan karena aturan yang mensyaratkan adanya surat keterangan yang diminta oleh pihak promotor.

Suatu hal yang kemudian malah terkesan diakali dan dilanggar setelah ada klub yang justru setelah partai pertama dimainkan dan proses pendaftaran pemain telah ditutup, tapi ternyata tetap mendapatkan pengesahan dengan alasan surat keterangan dari klub asalnnya telah disusulkan.

Namun cobaan terbesar adalah sewaktu lolos dari fase grup dan bersiap mengarungi babak 8 besar. Permasalahan kabut asap membuat persiapan tim menjadi kacau dan nyaris membuat tim Persebaya United yang belakangan berubah nama menjadi Bonek FC enggan datang ke Palembang di leg kedua 8 besar.

Meski akhirnya merebut tempat di semifinal, namun kemenangan WO atas Bonek FC tentu bukanlah sebuah hal yang patut dibanggakan. Namun tentu kita harus menghormati keputusan CEO Bonek FC yang tetap memilih mundur dari pertandingan, walau sebagai pecinta SFC kami lebih memilih menyelesaikan 90 menit permainan apapun hasil akhirnya nanti.

Lolos ke semifinal dengan predikat kemenangan WO membuat tim SFC terus menjadi perbincangan dan dianggap tidak layak bermain di fase 4 besar. Hampir semua pengamat sepakbola sudah berbicara final ideal atau final idaman dan tidak memasukkan nama SFC di dalamnya.

Padahal, jika melihat apa yang sudah pemain lakukan saat berlatih, tentu sudah selayaknya mereka tetap mendapat penghormatan. Beberapa kali tim SFC harus terusir dari GSJ dan harus pindah ke lapangan futsal karena asap tebal, bahkan puncaknya saat harus berlatih dengan masker, semua tetap dilakukan tanpa ada rasa mengeluh.

“Jangan pernah mengeluh, karena hidup yang kamu keluhkan terkadang adalah hidup yang orang lain inginkan,” sebuah kata-kata yang saat itu tepat menggambarkan apa yang dialami para punggawa SFC. Mereka melawan semua keterbatasan karena sadar banyak pemain sepakbola di tanah air yang sekarang bernasib lebih buruk pasca konflik Menpora – PSSI yang berujung sanksi FIFA.

Di partai semifinal SFC pun harus menerima kenyataan dan berbesar hati untuk memainkan leg kedua di stadion Manahan Solo karena Palembang tidak mendapat rekomendasi dari BMKG serta BLH Sumsel terkait tebalnya kabut asap. Tapi lagi-lagi para pemain justru terbakar semangatnya dan dalam dua leg semifinal yang beramoma tandang tersebut mencatat kemenangan tanpa kekalahan sekaligus memastikan tiket ke partai final.

Soal di final, kita sudah mengetahui SFC kalah dan secara jantan kita pun harus mengakui kemenangan Persib serta mengucapkan selamat untuk Firman Utina dkk. Namun percayalah, kalian semua sudah memenangkan hati ini dan sesuai judul di atas, Juara Sejati Kadang Tidak Hanya Diukur Dari Sebuah Piala.

 

Arie Firdaus

Pecinta SFC dan anggota SFC Kaskus