Sriwijaya FC akhirnya merebut 1 tiket ke babak 8 besar turnamen Piala Presiden dari grup B usai mengalahkan Persela Lamongan dengan skor 2-0 Rabu (9/9) di stadion Kanjuruhan Malang. Gol Patrick Wanggai di menit 67 babak kedua melalui titik penalti mengawali kemenangan laskar wong kito dan satu gol tambahan di menit 70 melalui Wildansyah membawa SFC mengakhiri klasemen sebagai juara grup B dengan poin 6, unggul 1 poin di atas Arema Cronus yang diluar dugaan ditahan imbang 1-1 oleh PSGC Ciamis.

“Kami tidak akan banyak mengomentari pertandingan ini lagi, yang pantas kami lakukan hanyalah mengucap rasa syukur karena akhirnya mampu memenangkan laga dan lolos ke babak selanjutnya di turnamen Piala Presiden,” ujar asisten pelatih SFC, Hartono Ruslan saat jumpa pers usai pertandingan.

Diakuinya, sama seperti laga melawan Arema Cronus (5/9) kemarin, kembali timnya mendapatkan banyak peluang sepanjang 90 menit, namun hanya 2 gol yang berhasil disarangkan ke gawang lawan. “Penyelesaian akhir memang akan menjadi evaluasi usai babak grup ini, namun untuk sekarang kami akan mensyukuri kemenangan ini dulu,” ungkap eks pelatih Persik Kediri ini.

Di babak 8 besar, pihaknya pun menegaskan tidak akan memilih lawan dan siap menghadapi kontestan dari grup lain. “Seluruh tim yang lolos pasti semuanya bagus, namun kami tidak perlu takut karena secara umum penampilan SFC pun terus meningkat,” tegasnya.

Hal yang sama juga disampaikan pencetak gol pertama SFC, Patrick Wanggai yang menganggap di babak 8 besar nanti semua tim akan punya peluang yang sama. “Tidak perlu khawatir, justru mental kita akan rusak jika sudah takut sebelum bertanding. Soal gol yang saya cetak tadi, rasanya tidak perlu dibesarkan. Yang jelas saya bersyukur dan kemenangan ini berkat peranan seluruh anggota tim,” ungkap eks pemain Persipura ini.

Sementara itu, pelatih Persela Lamongan Didik Ludiyanto mengakui kekalahan anak asuhnya dan mengucapkan selamat untuk SFC yang dianggapnya bermain lebih bagus di laga ini. “SFC pantas menang dan Persela tadi bermain tidak seperti biasa. Kami banyak menurunkan pemain muda di laga ini dengan harapan dapat memberikan umpan yang membahayakan duet bek tengah mereka sesuai pengamatan kami saat SFC melawan Arema, namun hasilnya belum maksimal,” jelasnya.

Diakuinya, meski tidak ingin mencari kambing hitan namun mepetnya waktu persiapan sangat berpengaruh ke timnya. “Untuk pemain asing pun kami seperti membela kucing, mereka baru bergabung ketika turnamen sudah dimulai. Saya pun tidak ingin mengambil resiko memainkan mereka lagi setelah di laga perdana permainannya tidak sesuai harapan,” bebernya.

Secara khusus dirinya pun berharap kompetisi dapat segera kembali digulirkan agar para pelaku sepakbola dapat kembali beraktifitas. “Banyak pemain yang bertanya kepada saya soal nasib mereka usai turnamen ini, saya bingung untuk menjawabnya. Saya sendiri sedikit beruntung karena sudah menjadi PNS. Karena itu saya mengetuk kepada seluruh pemangku kebijakan di negeri ini untuk memperhatikan masa depan pemain dengan kembali memutar kompetisi,” harapnya.