PALEMBANG — Meski dianggap melakukan kesalahan fatal yang berujung kekalahan Sriwijaya FC atas Pusamania Borneo FC, Sabtu (18/2) lalu, namun manajemen laskar wong kito menyatakan tetap percaya dengan Teja Paku Alam dan Yanto Basna. Buruknya komunikasi kedua pemain tersebut memang melahirkan gol semata wayang PBFC yang dicetak oleh Fandy Ahmad di menit 72 babak kedua di laga pamungkas grup 4 turnamen Piala Presiden 2017 di stadion I Wayan Dipta Gianyar.
“Tentu yang terpenting adalah bagaimana mengevaluasi secara keseluruhan dan memastikan agar kedepannya hal tersebut tidak terulang lagi. Tetapi jika disebut hasil akhir di laga itu karena kesalahan kedua pemain saja rasanya kurang pas,” ungkap sekretaris tim SFC, Achmad Haris saat dihubungi Senin (20/2) sore.
Usai pertandingan, manajer SFC Nasrun Umar juga disebutnya menyampaikan hal yang sama dan meminta pemain agar kembali fokus menatap laga selanjutnya. “Apapun hasilnya adalah tanggung  jawab bersama, dan sejauh ini seluruh anggota tim juga tetap kompak, saling mensupport dan tidak ada yang saling menyalahkan,” tegasnya.
Sementara itu, pelatih kiper SFC menyebut telah berdiskusi dengan Khusaeri, asisten pelatih SFC lainnya terkait kejadian ini. “Hal ini bisa terjadi dimana saja dan pemain kelas dunia juga pernah melakukannya. Walau lumrah dan manusiawi, tentu tugas kita adalah belajar dari kesalahan ini serta memastikannya tidak terjadi lagi. Banyak faktor yang memang harus diperhatikan jika menghadapi momen seperti itu, seperti salah satunya adalah penguasaan terhadap kualitas lapangan, kemarin saat terjadi kemelut pantulan bola memang tidak sempurna,” jelasnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Khusaeri yang menyebut apa yang dilakukan Yanto Basna karena adanya instruksi dari penjaga gawang. “Saya juga stopper, jika ada instruksi dari kiper agar melepas bola tentu saya lakukan karena jika dipaksakan akan terjadi benturan sesama pemain sendiri. Tetapi kita tidak melihat ke belakang lagi dan komunikasi akan ditingkatkan lebih baik lagi, tentu dimulai dari sesi latihan agar chemistry antar pemain lebih nyetel,” ujarnya.
Sementara itu, kejadian ini juga memancing reaksi dari suporter SFC yang meminta agar hal ini dapat diperbaiki kedepannya. “Laga antara SFC melawan PBFC kemarin juga menyangkut nasib tim lain di grup 4 yakni Barito Putera. Kami sangat yakin seluruh pemain sudah bekerja keras sepanjang pertandingan, namun jika ada momen seperti itu mungkin lebih baik jika stopper langsung membuang bola dan tidak mengambil resiko. Karena kejadian ini bisa saja dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan menganggap ada permainan antara kedua tim untuk merugikan yang lainnya,” ujar Arie Firdaus dari komunitas Sriwijaya Kaskus. (dedi)

Artikel Terkait