Meski sudah membuktikan kapasitasnya dengan lolos ke babak final Piala Presiden, namun banyak pihak kembali meragukan Sriwijaya FC yang dianggap kalah kelas dengan Persib Bandung. Beberapa pelaku sepakbola nasional mulai dari Evan Dimas, eks penyerang timnas Kurniawan Dwi Julianto, pelatih Eduard Tjong, Kashartadi atau Hanafing mengatakan laskar wong kito akan kesulitan meredam Maung Bandung di partai final nanti.

Namun hal tersebut diakui pelatih SFC, Beny Dollo bukanlah sebuah masalah dan dirinya enggan membahas komentar pihak-pihak tersebut. “Saya yang lebih tahu tentang tim ini, mereka silahkan saja berkomentar. Namun pemain SFC sudah bekerja keras selama masa persiapan dan di turnamen ini, saya sangat percaya dengan kemampuan mereka, di final nanti mereka pun berhak mendapatkan respect,” ungkap eks pelatih timnas ini.

Saat ditanya mengenai budaya psy war di sepakbola Indonesia yang sempat marak saat Persib yang dilatih Djajang Nurdjaman bentrok dengan Pusamania Borneo FC yang diarstiketi oleh Iwan setiawan, atau Joko Susilo (Arema Cronus) dengan Indra Sjafri (Bali United(, Bendol mengaku hal tersebut sah-saja dilakukan. Namun menurutnya, psy war tersebut tetaplah harus mengedepankan etika dan tidak merendahkan lawan.

“Budaya kita belum siap atau tidak cocok. Karena memang psy war pun kadang berlebihan, seperti aksi Mourinho., kalau hanya sebatas perang di media dengan Arsene Wanger, itu biasa. Tapi aksinya yang mencolok mata Tito Villanova pelatih Barcelona dulu, itu tidak sudah berlebihan,” jelasnya.

Namun Bendol sendiri mengaku menghormati seluruh pelatih di Indonesia, termasuk juga calon lawannya di final nanti, Djajang Nurdjaman. “Kalau dari sisi usia, saya masih lebih senior. Saya sudah mengenalnya sejak dia masih bermain dulu, tapi saya enggan berkomentar lebih banyak dan hanya akan fokus mempersiapkan tim di partai final nanti,” tambahnya.