PALEMBANG — Untuk mengubah sistem negara Indonesia dari Demokrasi menjadi negara Islam, Menurut Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Ishak Mekki adalah hal yang tidak mungkin, karena mengingat masyarakat Indonesia yang heterogen, terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan agama.

Dikatakan Ishak, jika itu terjadi nantinya kan dikhawatirkan akan ada keributan di daerah yang tersebar umat non Islam.

“Sumatera Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua dan lain-lain, akan bergolak karena sistem kita dinilai tidak berpihak pada mereka,” ujar Ishak saat membuka Disemasi Pedoman Peliputan Terorisme di Hotel Grand Duta, Kamis (27/10).

Pernyataan orang nomor dua di Sumsel ini didasari beberapa faktor, di antaranya persepsi umum terhadap Islam sebagai agama yang penuh kekerasan. Sehingga dikhawatirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dipengaruhi paham radikal yang sebenarnya diciptakan dunia barat untuk menghancurkan umat Islam.

Faktor lainnya karena sistem Demokrasi dinilai mampu merangkul semua lapisan masyarakat, suku, golongan  dan agama, sehingga tidak terjadi perpecahan dan konflik menyangkut Suku Agama dan Ras (RAS).

“Buktinya kita di Indonesia aman-aman saja, di Sumsel pun demikian, zero conflict. Sementara saudara-saudara kita di Timur Tengah selalu ada pergolakan. Kita beruntung,” ucap Ishak.

Dilanjutkannya, yang perlu dilakukan masyarakat Indonesia saat ini ialah bersatu melawan berbagai intimidasi dan pengaruh jahat, termasuk terorisme.

Mengenai sistem Demokrasi menurutnya tidak perlu diperdebatkan, melainkan dijunjung tinggi dan mengesampingkan perbedaan.

“Mengubah sistem (Demokrasi) ke Islam tidak mungkin. Yang penting masyarakat, bangsa bersatu menjaga kedaulatan NKRI,” tandasnya. (juniara)

RelatedPost