Laskarwongkito.com – Dalam ilmu ekonomi, pasar merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli. Di Palembang ada berbagai jenis pasar tradisional.
Tak hanya karena telah lama berdiri dan bertahan hingga saat ini, beberapa pasar tradisional tersebut mempunyai nilai historis yang tinggi.
Pasar apa saja itu? Berikut lima pasar tradisional di Kota Palembang yang bernilai sejarah.

1. Pasar Sekanak, Pasar ‘Tertata’ Pertama

pasar-sekanak

(Sumber foto: bp.blogspot.com)

Pasar Sekanak identik dengan bangunan hasil arsitektur Belanda. Letaknya tak jauh dari Kantor Walikota Palembang. Dalam sejarahnya, pembangunan Pasar Sekanak, awalnya didahului oleh keinginan Pemerintah Kolonial Belanda untuk “menyeragamkan” sistem sosial dan ekonomi di daerah jajahan. Meskipun pemerintah kolonial “mengakui” keberadaan pasar terapung di Sungai Musi dan “pasar-pasar” rakyat yang umumnya berada di muara dan sepanjang tepian anak Sungai Musi, Belanda memandang perlu adanya pasar di daratan.
Karenanya, setelah menduduki Palembang pada tahun 1821, Belanda pun merencanakan pembangunan pasar umum, yang semua aktivitasnya terkonsentrasi di daratan.

Baru pada awal abad ke-20, muncul “Pasar Tumbuh” di kawasan 16 Ilir. Semula, kawasan di sepanjang tepian – arah ke hilir Sungai Musi—Sungai Kapuran ini sebagai kawasan perkantoran dan pertokoan. Namun, pemerintah kolonial memberi kesempatan kepada rakyat Palembang dan sekitarnya untuk menggelar dagangan di kawasan dekat muara Sungai Rendang.
Saat itu para pedagang menggelar dagangannya dalam bentuk cungkukan atau hamparan. Semacam pedagang kaki lima saat ini. Syaratnya, barang dagangan yang digelar pagi hari, dibongkar pada sore harinya. Pasar tumbuh ini di-“permanen”-kan sekitar tahun 1918.

2. Pasar 16 Ilir, Tumbuh dari Semangat Pedagang Cungkukan

pasar-16

(Sumber foto: bp.blogspot.com)

Munculnya Pasar 16 Ilir berawal dari adanya “Pasar Tumbuh”, yang terletak di tepian Sungai Musi (sekarang Gedung Pasar 16 Ilir Baru hingga Sungai Rendang, Jl Kebumen). Dari tempat bertemunya warga Hulu dan Hilir untuk menjajakan hasil bumi, buah dan sayur-sayuran.
Dengan lokasinya yang mudah dijangkau melalui darat dan laut, membuat Pasar 16 Ilir kian berkembang dan ramai. Pada zaman itu juga masih sangat dikenal dengan barter barang. Bisa dikatakan tidak banyak yang memiliki tradisi jual beli seperti sekarang pada masa itu.

3. Pasar Cinde, Pasar Terlengkap dari Sembako hingga alat kapal dan keperluan militer

pasar-cinde

(Sumber foto: bp.blogspot.com)

Pasar Cinde pada awal mulanya disebut dengan Pasar Lingkis karena pada awalnya, di pasar itu banyak pedagang yang berasal dari daerah Lingkis, Jejawi, OKI dan berdomisili di tempat tersebut.
Pada masa perang 5 hari 5 malam 1947 tempat ini merupakan salah satu titik pertempuran, di mana sebagian pejuang dari Kebon Duku mengambil posisi di area ini.

Untuk kamu ketahui juga, pasar ini diarsiteki oleh Herman Thomas Karsten (1884-1945). Pasar ini kembaran Pasar Johar Semarang yang juga dirancang oleh Karsten.
Sejak mulanya, segala macam barang ada di tempat ini, mulai perlengkapan kapal sampai kerupuk. Selain itu, barang dagangan juga didominasi oleh penjualan perlengkapan militer dan alat-alat pertanian, selain kebutuhan pokok yang juga banyak tersedia kala itu.

4. Pasar Lemabang, Salah Satu Pasar Kecil di Pinggir Aliran Sungai Musi Selain Pasar 16

lemabang

(Sumber foto: bp.blogspot.com)

Pasar Lemabang terletak di Jalan Yos Sudarso Palembang, berada dekat dengan Sungai Lais yang merupakan anak dari Sungai Musi. Berdiri tidak jauh dari Kantor Kecamatan Ilir Timur II Palembang. Dulu pasar ini terletak di depan terminal kecil bagi angkutan kota Lemabang dan bis kota Pusri, namun sekarang dipindahkan ke dalam lorong di seberangnya.

Saat ini ada sekitar 500 pedagang yang berdagang di Pasar Lemabang. Pasar yang satu ini cukup luas dan memiliki lahan parkir yang memadai karena berada pada persimpangan jalan. PD Pasar Palembang Jaya berencana untuk membangun pasar ini menjadi tiga lantai, sehingga tempat pedagang daging, ikan, dan sayuran degan pedagang sembako dan pakaian menjadi terpisah.

5. Pasar Sekip Ujung, Pasar Tertib Ukur

pasar-sekip

(Sumber foto: palembang.go.id)

Pasar Sekip Ujung yang terletak di Sekip Ujung Palembang meraih penghargaan sebagai pasar tertib ukur 2013 dari Kementerian Perdagangan RI karena sudah menggunakan alat ukur yang sesuai standar berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal. Penghargaan ini jadi bagi motivasi bagi untuk meningkatkan pengawasan dan pelayanan tera dan tera ulang. (red/dil)

RelatedPost