PALEMBANG — Dalam rangka peringatan Hari Buruh Nasional atau May Day 2017, sekitar 1.500 masa aksi dari Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Wiilayah Provinsi Sumsel melakukan aksi unjuk rasa yang disebar dibeberapa titik di Kota Palembang, dengan titik masa aksinya yang terbanyak di pelataran Monpera Palembang, Minggu (01/05).
Untuk di Monpera sendiri tampak, dibentangkan spanduk besar berwarna merah yang bertuliskan KASBI. Tak hanya itu, para peserta demo uang juga diikuti kaum hawa ini juga membawa spanduk-spanduk kecil yang berisikan sepuluh tuntutan mereka, antara lain.

1. Menghapus sistem kerja kontrak dan  outsourcing

2. Tolak politik upah murah berlakukan upah  rakyat nasional

3. Tolak PHK, union busting dan kriminalisasi  aktivis buruh

4. Laksanakan hak-hak buruh perempuan dan  lindungi buruh migran Indonesia

5. Tangkap adili dan penjarakan pengusaha  nakal

6. Berlakukan jaminan sosial bukan asuransi  sosial

7. Turunkan harga bbm dan kebutuhan pokok  pendidikan dan kesehatan gratis untuk rakyat

8. Tolak privatisasi bangun industri nasional  untuk kesejahteraan rakyat

9. Tanah dan air untuk kesejahteraan rakyat
Wakil Ketua Harian Kasbi Sumsel Dodi Hariyanto menyampaikan dengan melihat kondisi sekarang banyak kebijakan Pemerintah seperti Peraturan Pemerintah (PP) 78 yang mengatur tentang upah kerja dan PP 36 mengatur tentang pemangangan dan itu yang benar-benar membuat kondisi buruh semakin kian terpuruk  untuk mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang menjadi harapan
“Jadi sudah jelas, kita menyatakan sikap kepada bahwa pemerintah agar dapat mencabut pp 38 dan pp36 serta hapus sitem kerja kontrak dan outsourcing, dan kita akan melakukan penolakan kepada Pemerintah, “katanya
Lebih lanjut ia juga mengungkapkan banyak laporan-laporan buruh terutama KASBIH yang diberikan kepada pihak Dinas Ketenagakerjaan (Disnakers) Sumsel yang tidak dapat terealisasi sampai dengan hari ini
“Disnakers Provinsi Sumsel tidak dapat bekerja sesuai dengan aturan yang ada sampai dengan hari ini  tidak ada terealisasi banyak buruh upahnya di bawah ump banyak hak hak pekerja kita sampai dengan hari ini tidak diberikan perihal status perihal BPJS dll, “ungkapnya
Untuk itu, May Day hari ini ia akan menjadikan sebuah momen sejarah atas pergerakan buruh bukan untuk menjadikan May Day sebagai lebaran buruh dikarenakan dahulu buruh berjuang merebut dan merubah jam kerja dari 12 jam menjadi 8 jam itu bukan serta merta diberikan, banyak ribuan nyawa melayang pada saat itu
“Kemarin kita diundang pada tanggal 21 di polda untuk silahturahmi kita diajak untuk memperingati may day sebagai lebarannya buruh, apakah kita harus merayakannya dengan hiburan atau semacamnya selama buruh masih dalam kondisi terpojok kami akan selalu menyatakan sikap akan terus turun kejalan mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak pro dengan kaum buruh, ” tutupnya. (Juniara)

Artikel Terkait