Sosok Ichsan Kurniawan menjadi pemain Sriwijaya FC yang paling disorot selama turnamen Piala Bhayangkara. Pasalnya, penampilannya tergolong paling stabil dan dalam laga terakhir laskar wong kito melawan Mitra Kukar, Selasa (22/3) kemarin mampu menunjukkan kualitasnya dan menjadi man of the match di laga yang berakhir imbang 2-2 tersebut.

Gol yang dicetaknya ke gawang Sahar Ginanjar di menit 34 babak pertama juga tergolong berkelas dan sangat indah. Tendangan kerasnya dari luar kotak penalti mampu menghujam gawang Mitra Kukar dan membuat Sahar hanya bisa terpaku melihat sepakan cannon ball pemain asal Martapura OKU Timur tersebut.

Menurut eks timnas U19 tersebut, gol tersebut sangat berarti untuknya . “Ini adalah gol pertama saya untuk SFC senior setelah mendapat promosi dari skuad U21 di tahun 2012/2013. Tentu saya berharap ini bukanlah yang terakhir dan kedepan terus dapat memberikan kontribusi maksimal untuk  SFC,” jelas Ichsan.

Namun cerita menarik diakui Ichsan tersaji dibalik terciptanya gol tersebut. “Gol ini saya persembahkan untuk kedua orang tua dan seluruh pihak yang selama ini selalu mensupport karier saya. Selain itu saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada coach Subangkit yang merupakan salah satu figur penting di karier saya,” ungkapnya.

Subangkit, pelatih yang di pertanding tersebut menjadi arsitek Mitra Kukar diakui Ichsan merupakan sosok yang membawa perubahan di kariernya. “Dulu awalnya saya adalah seorang striker, barulah saat coach Bangkit melatih di SFC U21 di musim 2012/2013 beliau menggeser posisi saya ke tengah,” bebernya.

Saat diwawancarai, Ichsan sendiri didampingi oleh Terens Puhiri, bintang muda asal Pusamania Borneo FC yang ternyata merupakan rekan sekamarnya dulu di timnas U15. “Terens adalah teman saya dulu di timnas U15 dan sewaktu berlatih di Arsenal pada tahun 2005, kami berduet sebagai striker dan belum sebagai gelandang seperti saat ini,” tambahnya.

Sementara itu, Subangkit sendiri mengaku gembira melihat kemajuan karier Ichsan saat ini. “Dulu saat masuk di SFC U21, saya sengaja merubah posisi Ichsan dengan beberapa pertimbangan. Ketika itu kami memang membutuhkan sosok petarung di lini tengah dan punya kemampuan umpan yang baik, selain itu di lini depan sudah ada Rizky Dwi Ramadhana yang menurut saya lebih cocok dengan skema yang sudah disiapkan,” jelasnya.

Keputusan itu pun menurut Subangkit terbukti tepat karena saat itu Rizky Dwi Ramadhana mampu menjadi top skor dan pemain terbaik ISL U21, sementara Ichsan Kurniawan terpilih masuk ke dalam skuad timnas U19. “Jika saya paksakan, maka Ichsan akan terbentur dengan Rizky Dwi, tetapi kini kedua pemain tersebut mampu membuktikan bahwa talenta lokal Sumsel mampu bersaing dan sebagai mantan pelatihnya saya sangat puas,” pungkasnya.