PALEMBANG — Pasca dilengserkannya Oswaldo Lessa sebagai pelatih kepala Sriwijaya FC, Sabtu (17/6) kemarin, manajemen laskar wong kito menyebut akan mulai berburu arsitek baru. Namun di sela-sela perburuan nahkoda anyar tersebut, posisi pemimpin di dalam tim akan dipercayakan kepada sosok Hartono Ruslan, asisten pelatih yang dinilai sudah sangat mengetahui karakter tim SFC.

Pelatih kelahiran Malang ini memang disebut sangat layak untuk memimpin SFC saat ini karena sudah 5 tahun bersama tim kebanggaan masyarakat Sumsel ini. Dimulai saat menjadi asisten pelatih Kashartadi di musim 2011-2013, lalu tetap di posisi yang sama saat era Beny Dollo (2014-2015), Widodo C Putro (2016-2017) hingga terakhir membantu Oswaldo Lessa.

Catatan tersebut juga membuatnya menjadi pelatih terlama yang pernah menukangi SFC. Bahkan di musim 2011-2012 saat SFC terakhir menjadi juara Indonesian Super League, perannya juga tergolong sangat vital. Karena meskipun publik lebih banyak mengenal sosok Kashartadi sebagai pelatih kepala, namun sesungguhnya ada peran besar eks pemain Arseto Solo di era Galatama ini.

Kashartadi yang sebelumnya menjadi asisten Ivan Kolev secara administrasi belum dapat didaftarkan sebagai pelatih kepala karena belum memenuhi syarat administrasi yakni Lisensi Kepelatihan. Operator kompetisi dan PSSI memang mengharuskan seorang pelatih kepala di kompetisi tertinggi di tanah air memang wajib memiliki lisensi A AFC.

Karena Kashartadi saat itu baru memiliki lisensi A Nasional, maka manajemen SFC akhirnya memutuskan merekrut Hartono Ruslan. Bahkan secara administrasi, nama Hartono Ruslan yang didaftarkan sebagai pelatih kepala, walau dalam prakteknya Kashartadi yang lebih banyak tampil memimpin tim secara keseluruhan.

Faktor lisensi juga menjadi alasan mengapa manajemen SFC saat ini kembali mempercayainya menjadi caretaker tim untuk sementara waktu. “Om Hartono punya DNA Sriwijaya, selain itu dia juga sangat tahu mengenai karakter dan pemain di dalam tim ini. Secara administrasi juga tidak ada masalah karena punya lisensi A AFC,” jelas Achmad Haris, seketaris tim SFC saat dihubungi Minggu (18/6) sore.

Saat dikonfirmasi, Hartono Ruslan mengaku siap menjalankan amanah yang diberikan manajemen SFC kepadanya. “Saya pikir ini bukan masalah siap atau tidak siap, tetapi soal tanggung jawab. Saya punya kontrak di SFC dan juga ada ikatan yang cukup emosional dengan tim ini, bersama seluruh pemain kami akan bekerja keras memperbaiki semuanya kedepan,” ungkap pelatih yang juga pernah berguru ke Brasil ini saat dikonfirmasi.

Dirinya pun menyebut dalam waktu dekat sudah membuat program kepada seluruh pemain guna persiapan melawan Perseru (3/7) mendatang. “Hingga pelatih baru nanti datang, maka saya yang akan memimpin. Menurut saya SFC punya materi pemain yang bagus dan tidak layak di peringkat seperti saat ini. Saya hanya akan coba membangkitkan semangat bertanding mereka dan membuat semuanya nyaman saat di lapangan hijau,” tambahnya.

Soal ditanya masa depannya di SFC, Hartono pun menyebut tidak terlalu berambisi untuk menjadi pelatih tetap dan memilih fokus bekerja terlebih dulu. “Itu urusan manajemen, saya belum berpikir sejauh itu dan tidak terlalu berambisi. Saya dan SFC punya ikatan yang cukup baik, dulu saat dipanggil kembali saya juga tidak perlu waktu lama untuk menerima kembali tawarannya,” pungkasnya.

Usai kompetisi Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 lalu, posisi Hartono Ruslan memang sempat tergeser. Di turnamen pra musim Piala Presiden 2017, posisinya sebagai asisten pelatih SFC sempat digantikan oleh Francis Wawengkang dan Khusaeri yang diboyong oleh Widodo C Putro. Namun jelang bergulirnya kompetisi Liga 1 Indonesia 2017 dan posisi WCP digantikan oleh Oswaldo Lessa, jabatan asisten pelatih pun kembali dipercayakan kepadanya. Saat itu, meski sempat ditawari dan bergabung bersama PS TNI selama 2 hari, Hartono Ruslan langsung menerima ajakan dari manajemen SFC untuk kembali menangani Beto Goncalves dkk.

Dukungan untuk Hartono Ruslan pun datang dari kelompok suporter SFC, Singa Mania. “Om Har sosok pelatih yang low profile dan tidak mau terlalu diekspos, walau di SFC dirinya sudah membuktikan kapasitasnya. Kami juga heran mengapa dirinya lebih nyaman dibalik layar, saat hengkang dari SFC usai juara, di Persik pun demikian. Meski jadi pelatih kepala, namun sosok Musikan yang tampil. Kami berharap beliau mampu mengembalikan karakter tim hingga pelatih baru nanti hadir,” ujar ketua umum Singa Mania, Ariyadi Eko saat dimintai komentarnya mengenai hal ini. (Dedi)

Artikel Terkait