PALEMBANGGubernur Sumatera Selatan H.  Alex Noerdin resmikan langsung pameran The 1st Asia Bonn Challenge High Level Roundtable Meeting, di Griya Agung, Senin (08/05). The 1st Asia Bonn Challenge High Level Roundtable Meeting merupakan konferensi lingkungan hidup tingkat internasional yang dihadiri oleh para Menteri Lingkungan Hidup di Asia atau setingkat Menteri dalam rangka merestorasi hutan kritis di dunia.

Peresmian ini juga dihadiri oleh Direktur Usaha Jasa Lingkungan dan Hasil Hutan Bukan Kayu Hutan Produksi Ir. Djohan Utama Perbatasari, MM, Kapolda Provinsi Sumatera Selatan Irjen Pol Agung Budi Maryoto, Kasdam II Sriwijaya Brigjen TNI Marga Taufiq SH., MH, Ketua Pengadilan Tinggi Sumatera Selatan H. Chaidil, Bupati Muara Enim H. Muzakir Sai  Sohar, IUCN Ms. Sandra Caya (Switzerland), Inspector General Of Forest, Pakistan Mr. Syed Mahmod Nasir

Ada beberapa perusahaan dan dinas yang ikut dalam kegiatan tersebut diantaranya mitra Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) seperti WRI Indonesia, Asia Pulp dan Paper (APP), Belantara Foundation. Pameran ini menyajikan perusahaan yang mendukung restorasi gambut, juga menyajikan pameran hasil perkebunan Sumsel seperti kopi semendo, dan kerajinan khas Bumi Sriwijaya Songket.

Orang nomor satu di Sumatera Selatan mengatakan, Bonn Challenge pertama kali diprakarsai oleh adanya pertemuan Menteri Lingkungan Hidup dengan International Union for Conservation Nature (lucN) di tahun 2011 di Kota Bonn Jerman, yang menargetkan akan merestorasi hutan dunia dengan tahun 2020 sebanyak 150 juta hektar selaras dengan Deklarasi New York 2014 tentang Hutan. Ia juga menuturkan, sasaran dari kegiatan restorasi ini adalah untuk mengurangi pemanasan global akibat efek gas rumah kaca yang berdampak pada perubahan iklim dunia.

“Kita patut berbangga karena Pemerintah Provinsi Sumsel, menjadi satu-satunya Provinsi di Indonesia yang diundang sebagai pembicara pada beberapa pertemuan Bonn Challenge, Provinsi Sumsel dinilai sebagai daerah yang paling konsisten dalam pengurangan emisi karbon melalui kegiatan restorasi,” tegasnya.

“Jadi silahkan untuk melihat pameran, ini bukan sembarang pameran seperti di pasar malam tapi ini bermakna penting untuk ke depan dan butuh diwariskan untuk generasi selanjutnya,”  terangnya.

Secara rinci ia menguraikan, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pertama kali diundang pada pertemuan Bonn Challenge di tahun 2015 di Kota Bonn, Jerman dan terakhir di tahun 2016 Panama. Hal ini dikarenakan Sumatera Selatan telah menginisiasi untuk melakukan tujuh restorasi di berbagai lokasi dan merupakan satu-satunya local government yang diundang dan menjadi pembicara di forum tingkat tinggi antar negara tersebut.

“Kami (Pemprov Sumsel) bertanggung jawab memelihara dunia yang sudah tua ini untuk diwariskan kepada generasi muda untuk dunia yang jauh lebih baik,” tegasnya.

Saat ini pula dijelaskan mantan Bupati Musibanyuasin dua periode ini,  potensi untuk merestorasi hutan dan lahan knitis di Sumatera Selatan sangat terbuka lebar. Ada sekitar 736.000 hektar hutan dan lahan bekas terbakar di tahun 2015. Tentunya ini akan membuka peluang untuk direstorasi melalui pertemuan Bonn Challenge pada pertemuan Asia Bonn Challenge di Palembang ini.

Sekedar informasi,  untuk kunjungan sendiri dimulai dari  kunjungan lapangan ke Sepucuk Kab. OKI yaitu  tanggal 9 Mei 2017 dan pertemuan puncak Asia Bonn Challenge tanggal 10 Mei 2017. (rill)

Artikel Terkait