Palembang- Mengenakan pakaian muslim lengan panjang abu-abu, Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin berangkat menuju Masjid Nurul Hidayah di Jalan Letnan Jaimas, Pasar Cinde Palembang, menghadiri Haul ke-6 Alm. KH. M. Zen Syukri, Minggu (25/3).

Kedatangan orang nomor satu di Sumsel itu disambut ratusan jemaah haul dan para santri Pondok Pesantren Muqimussunnah Palembang dan langsung mendengarkan ceramah agama oleh Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar M.A, mantan Menteri Agama RI tahun 2001-2004.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Sumsel Alex Noerdin sempat mengungkapkan kedekatannya dengan Alm. KH. M. Zen Syukri semasa hidupnya. Menurut Alex, sosok pendiri Pondok Pesantren Muqimussunnah Al Mukarrom itu merupakan khalifah tarekat Sammaniyah terkemuka di Palembang berkat ajaran agama yang diberikan kepada santrinya.

“Kiai Zen Syukri memang luar biasa dan Alhamdulillah saya memang dekat dengan beliau. Tidak terasa sudah 6 tahun beliau meninggalkan kita, semoga apa yang telah diajarkannya kepada kita semua menjadi amal ibadah baginya,” ungkap Alex.

Alm. KH. M. Zen Syukri sendiri dilahirkan di Palembang pada 10 Oktober 1919  dari pasangan K.H. Hasan Syukur dan Nyimas Hj. Sholhah Aghari. Zen Syukri mulai belajar agama sejak kecil di madrasah ibtidaiyah dan tamat pada tahun 1935. Setelah itu, ia merantau ke Jawa Timur, ke sebuah pondok pesantren ternama di Tebu Ireng, Jombang. Karena ketekunannya, dalam waktu 3 tahun, ia khatam mengkaji berbagai kitab sekaligus. Akhirnya, sang guru Kiai Hasyim rela melepaskan santri kesayangannya itu untuk kembali ke kampung halamannya pada tahun 1939 untuk mengembangkan ajaran ahlusunnah di daerahnya serta untuk menggerakkan Nahdlatul Ulama (NU) di kawasan Sumatera.

Sebagai salah seorang santri Tebu Ireng dan murid Kiai Hasyim Asy’ari, ia mendapat posisi terhormat di pengurusan NU Palembang. Kemampuan yang  ia bawa dari Tebu Ireng bukan hanya penguasaan dan kemahiran dalam menyampaikan ilmu agama, tetapi juga kecakapan berorganisasi, sehingga NU di Palembang terus mencapai kemajuan. Maka, pada tahun 1943 ia dipilih sebagai ketua tanfidziyah NU Cabang Palembang.

Zen Syukri juga rajin mengadakan pengajian ke berbagai pelosok daerah. Dengan dedikasi dan kedalaman ilmunya, maka pada tahun 1950 ia mendapat kehormatan untuk mengajar di Masjid Agung Palembang. Tidak mudah untuk dapat diterima sebagai pengajar di Masjid Agung kalau keilmuannya tidak benar-benar mumpuni. Di sana, ia bertugas mengajarkan fiqih, tauhid, dan terutama tasawuf. Akhirnya, Zen Syukri menjadi pemimpin tertinggi serta imam di Masjid Agung.

Kesibukan mengelola Masjid Agung tidak menghambat aktivitas Zen di NU, bahkan ia diangkat menjadi pengurus NU Wilayah Sumatera Selatan dan terpilih menjadi Rais Am Syuriah (Ketua Umum Dewan Syuro) NU Wilayah Sumatera Selatan selama tiga periode, mulai 1984 hingga 1999. Abah Zen begitu beliau biasa disapa juga sempat terpilih sebagai salah seorang mustasyar (penasehat) Pengurus Besar NU (PBNU) sampai sekarang. Kemudian atas ketokohannya di NU ia dipilih sebagai anggota MPR sebagai wakil daerah.

Zen Syukri juga dikenal sebagai khalifah tarekat Sammaniyah di Palembang. Zen Syukri mendapatkan ijazah tarekat Sammaniyah dari ayahnya sendiri yaitu Hasan Ibn ‘Abd al-Shukur dan masih sempat menimba ilmu dengan kakeknya yaitu Syekh Muhammad Azhari Ibn ‘Abd Allah al-Jawi al-Palimbani. Melalui Zen Syukri inilah, komunitas tarekat Sammaniyah di Palembang mengalami kemajuan yang cukup pesat, ia memiliki kelompok pengajian yang bernama Majelis Ta’lim Ahlus Sunnah wal Ja-ma’ah yang tersebar di sejumlah masjid di Palembang.

Sebagai guru Tarekat Sammaniyah, Zen Syukri memiliki banyak murid di Palembang yang meliputi buruh, pedagang, pegawai, dan mahasiswa. Perkembangan yang pesat ini erat kaitannya dengan kemasyhuran Zen Syukri di Palembang. Ia adalah seorang ulama sufi kharismatik yang diakui masyarakat Palembang. Ia adalah alumni Pesantren Tebu Ireng yang menjadi murid Hadarah Shaykh Hashim al-Asy’ari yang menguasai seluruh bidang ilmu agama Islam dengan spesialisasi pada tauhid dan tasawuf.

Peranan yang dilakukan oleh Zen Syukri dalam memelihara dan mempertahankan tarekat Sammaniyah ini adalah dengan mengadakan pengajian-pengajian di masjid dan langgar bahkan di rumahnya sendiri. Pengajaran dan bimbingan diberikan menurut tiga tingkatan murid tersebut sehingga masing-masing tingkatan mendapat materi yang sesuai dengan kapasitas masing-masing. Pada tingkatan mubtadi materi utama yang diberikan adalah dasar-dasar keimanan dan ketauhidan dengan menggunakan kitab-kitab al-‘Ashariyah.

Pada tingkatan mutawwasit materi yang disampaikan berupa tasawuf akhlaqi dengan menggunakan kitab-kitab karya Imam al-Ghazali  dan tingkatan muntahi materi yang diberikan berupa tasawuf falsafi (teosofi) dengan menggunakan kitab-kitab karya Ibn al-‘Arabi.

Beberapa buah buku yang ditulis oleh Zen Syukri antara lain Pedoman Puasa (1954), Risalah Tauhid (1960), Rahasia Sembahyang, Melepaskan diri dari Bahaya Syirik (1964), Keimanan kepada Allah (1972), Al-Qur’an: Pendekatan Diri kepada Allah, Menuju Haji yang Mabrur, Qut al-Qulbi (Santapan Rohani), Sejarah Thariqat Sammanniyah Berkembang di Palembang, 10 Iman dan Menghadapi Maut, Menyegarkan Iman dengan Tauhid, Nur ‘Ala Nur(Cahaya di atas Cahaya), dan Kumpulan doa di Tanah Suci.

Artikel Terkait