PALEMBANG — Untuk mengabadikan figur-figur yang memiliki peran penting dalam memeperjuangkan kemerdekaan dan pembangunan Indonesia, Penerbit Gramedia Pustaka meluncurkan buku biografi Mohamad Isa karya teranyar dari Fersi Tarsan di Gramedia World Burlian Palembang, Kamis, (29/9).

Feris Tarsan mengungkapkan dirinya tertarik menulis buku tersebut karena sosok Mohamad Isa tidak htambah para remiling karet di Sumsel dan keberadaan remiling karet sangat membantu bagi para petani karet, untuk memasarkan produk karet yang ada di Sumsel,” jelasnya.

Selain itu, Menurut Feris jejak karir Mohamad Isa yang sangat menonjol yakni menjabat sebagai Rektor pertama Universitas Sriwijaya.  Tentu saja banyak kendala yang dihadapi Feris pada saat proses penulisan selama tiga tahun, salah satunya banyak tokoh-tokoh seusia Mohamad Isa yang telah tiada sehinggga minimnya informasi yang diperoleh mengenai sosok M. Isa.

“Namun saya beruntung mendapatkan beberapa tokoh-tokoh yang tahu banyak tentang pak Isa dan sangat mengenal pak Isa, contohnya pak Ali Amin mantan Gubernur Bengkulu pertama dan mantan Gubernur Sumsel, jadi lewat beliau kami bisa menggali informasi apa yang dilakukan pak Isa pada masa revolusi dan setelah itu,” urainya.

Kebetulan, sambung Feris anak Mohamad Isa yakni Leila Z. Rachmanto yang mengetahui banyak mengenai sepak terjang ayahnya saat menetap di Sumsel. “Kemudian ditambah ibu Sami adalah anak ketiga dari pak Isa, lewat beliaulah kemudian saya bisa menggali apa saja yang dilakukan pak Isa selama beliau mengabdikan dirinya di Sumsel,”

Menulis Biografi seseorang yang telah tiada, diungkapkan Feris seperti menyusun kepingan-kepingan puzzle. Memerlukan berbagai referensi dengan melakukan wawancara berbagai pihak terkait.

Selain Gubernur, Mohamad Isa juga memiliki jasa sangat besar dalam Pemiri, Pemiri yang merupakan cikal bakal Pertamina yang pada waktu dahulu Sumsel mengalami kesulitan keuangan. “Untuk melawan Belanda isi kas kita tuh kosong, kemudian pak Isa memimpin Pemiri yang memproduksi minyak dan hasilnya dijual oleh beliau kemudian dibelikan senjata untuk perjuangan kita,” ungkapnya

Menurutnya, jika menilik sejarah dan jejak perjuangannya, Mohamad Isa sidah sangat pantas untuk dinobatkan sebagai pahlawan Indonesia.”Buku ini mungkin jauh dari kata sempurna, tetapi saya mengharapkan bahwa para generasi muda sekarang dapat meneladani sosok pak Isa, karena sekarang seolah olah kehilangan jati diri kita sebagai sebuah bangsa. Pengabdiannya yang tulus begitu besar di bumi Sriwijaya, kalau nanti membaca buku ini kita bisa menggali sosok pak Isa lebih dalam lagi,” tutupnya. (juniara)

Artikel Terkait