Laskarwongkito.com-Faktor mental kembali menjadi musuh terbesar kontingen menembak Indonesia di hari kedua Asian Games 2018. Ketidakmampuan mengatasi tekanan psikologis diakui menjadi penyebab gagalnya penembak Indonesia mengeluarkan kemampuan terbaiknya dan tersingkir lebih dini di babak kualifikasi.

Sebagai contoh di bagian putra, 2 penembak Indonesia yang turun di nomor 10M Air Riflle, M Naufal Mahardika dan Fathur Gustafian yang diakui mengalami tekanan yang luar biasa. Dalam sesi latihan terakhir sebelum perlombaan, M Naufal mampu mencatatkan skor hingha 625-628, sedangkan di saat pelaksanaan turun cukup jauh ke 617.

Naufal bersama Fathur yang sama-sama mencetak skor 617 akhirnya harus puas menempati peringkat 22-23 klasemen akhir babak kualifikasi dan gagal lolos ke final. Padahal jika mampu mempertahankan performa seperti saat latihan, Naufal dipastikan akan mampu melaju ke babak selanjutnya dan berjuang memperebutkan medali pertama bagi kontingen Indonesia di Palembang saat babak final.

Hal yang sama juga terjadi di bagian putri, saat sesi latihan resmi Fidela Puspa Dewi sempat memberikan asa saat mencatatkan skor cukup tinggi 626 di latihan resmi (18/8) kemarin. Namun atlet Sumsel ini juga gagal mempertahankan torehan skor tersebut dan hanya meraih skor 621 di babak kualifikasi. Bersama Monica Daryanti, keduanya pun hanya menempati peringkat 12 dan 14 dari 44 peserta.

“Dari sisi hasil akhir, kami memang cukup kecewa karena atlet kita gagal masuk ke final. Kalau melihat grafik dan performa saat masa persiapan, Naufal dan Fidelia harusnya mampu lolos karena skornya cukup meyakinkan. Namun situasi saat pertandingan memang berbeda saat latihan, ada banyak tekanan dan mereka gagal mengatasinya,” ujar pelatih Air Rifle Indonesia, Budiman Darmawan saat ditemui di lokasi.

Naufal sendiri disebutnya gagal keluar dari tekanan karena mendapat undian yang menempatkannya bersebelahan dengan juara dunia asal India, Ravi Kumar. “Ravi itu adalah atlet idolanya dan terlihat Naufal sangat grogi. Mungkin terlihat sepele, namun tadi performanya memang jauh dari saat latihan kemarin,” ungkapnya.

Kedepan, dirinya sendiri berharap ada penambahan psikolog di dalam kontingen Indonesia. “Selama ini beberapa kali kita juga mengundang psikolog, namun hanya sekitar 3-4 kali saja. Kami berharap psikolog yang memang melekat bersama kontingen sehingga dapat terus memantau perkembangan atlet, dalam situasi pertandingan, secara teknis kita tidak kalah namun hanya masalah mental atlet yang masih turun naik,” harapnya.

Walau gagal lolos ke final, Budiman sendiri menyebut perkembangan pembinaan menembak di Indonesia telah berada di jalur yang tepat. “Dari sisi hasil memang kita gagal meloloskan atlet ke final, namun dari skor sudah ada peningkatan dan tadi semua bisa melihat jarak kita dengan negara yang diatas kita sudah tidak terlalu jauh. Namun tentu tetap ada evaluasi lagi, salah satunya memperbanyak jam terbang atlet kita di level internasional agar mental bertanding semakin baik,” pungkasnya.

Sementara itu, Fidela Puspa Dewi mengakui memang memperlukan banyak jam terbang di level internasional untuk meningkatkan prestasinya. “Dari hasil tentu kecewa gagal ke final, namun untuk skor rata-rata ada kemajuan. Saat latihan terakhir memang sempat mencatat skor tertinggi sekaligus terbaik selama ini, namun atmosfer pertandingan saat berbeda dengan latihan. Kedepan, saya berharap bisa terus diberikan kepercayaan turun di ajang-ajang internasional, kalau bisa Sumsel juga yang mempunyai venue lengkap juga menggelar kejuaraan internasional sendiri,” ujarnya singkat. (Ant)

Artikel Terkait