Kehidupan Pelaku Sepakbola di Indonesia Pasca Turunnya Sanksi FIFA
 
            Kemelut berkepanjangan sepakbola nasional yang dimulai dengan persetruan antara Menpora – PSSI mulai menunjukkan dampaknya. Seluruh pelaku pesepakbola di tanah air kini pun mulai harap-harap cemas memikirkan kelangsungan hidupnya. Untuk level klub, hampir seluruhnya kini melakukan rasionalisasi gaji terhadap pemainnya, beberapa diantaranya pun malah sudah ada yang membubarkan tim karena kesulitan finansial pasca berhentinya kompetisi.

            Untuk menyambung hidup, pemain mulai melirik turnamen antar kampung (tarkam) sebagai salah satu alternatif. Namun tidak semua klub mengijinkan pemainnya berlaga di tarkam dan tidak semua daerah juga menggelar kegiatan serupa. Beberapa aset pribadi seperti kendaraan bermotor, tanah hingga barang elektronik dilego untuk menutupi kehidupan sehari-hari.
  
Hartono Ruslan (Asisten Pelatih SFC)

            Asisten pelatih Sriwijaya FC, Hartono Ruslan kini hanya bisa bersabar menunggu kepastian bergulirnya kembali kompetisi sepakbola di tanah air. Bahkan karena sudah di titik jenuh melihat kegaduhan sepakbola nasional, eks pelatih Persik Kediri ini pun mengaku sudah enggan menonton tayangan televisi yang membahas mengenai permasalahan kulit bundar ini.

            “Saya sedih karena ada pihak yang sepertinya menganggap enteng sanksi FIFA dan tidak memikirkan nasib pelaku sepakbola sesungguhnya, karena selain para pemain, pelatih seperti saya pun terkena dampak sangat besar dari kisruh ini. Sepertinya kini mereka hanya sibuk bertikai, seharusnya segera dicari penyelesaian terbaik untuk masalah ini,” ujarnya saat dihubungi Selasa (2/6).

            Apalagi dalam waktu dekat, pelatih yang turut mempersembahkan gelar juara bagi laskar wong kito di musim 2011/2012 ini tengah menyiapkan hajatan besar, yakni menikahkan puteri bungsunya pada awal bulan Oktober mendatang. Awalnya, dirinya sudah merencanakan menyisihkan gajinya sebagai pelatih SFC guna membiayai gawean tersebut.

            “Kita memilih tanggal tersebut di bulan Februari lalu, disaat kondisi sepakbola masih normal dan pembayaran gaji di SFC pun sangat lancar. Namun sekarang setelah kompetisi dihentikan, saya memahami kondisi klub yang harus melakukan rasionalisasi gaji. Tapi tentu acara pernikahan anak saya harus tetap berlangsung dan tidak mungkin ditunda, ini tanggung jawab saya selaku orang tua,” beber ayah dari 2 putri ini.

            Menurutnya, resepsi pernikahan putri tersebut memang menyedot biaya yang cukup besar. “Namanya orang tua ke anak, pasti menginginkan yang terbaik. Apalagi di adat Jawa, pihak perempuan juga punya kewajiban dan tanggung jawab yang cukup besar, jadi walau tidak ada harus tetap diada-adain,” jelas pemilik lisensi A AFC ini.

            Sebagai jalan keluar, mantan pemain Persis Solo ini pun terpaksa menyiapkan rencana dadakan guna menutupi kebutuhan persiapan acara tersebut. “Saya tetap berharap kompetisi secepatnya segera digelar, namun jika sampai akhir lebaran belum ada kepastian, mungkin harus menggadaikan surat sertifikat tanah sebagai dana talangan,” jelas Hartono.

Artikel Terkait