Belakangan ini, pemberitaan sepakbola nasional lebih banyak dihiasi mengenai kisah getir pemain yang penghasilannya terganggu pasca penghentian kompetisi dan ditambah jatuhnya sanksi FIFA. Klub yang membubarkan diri, larinya para sponsor pemain yang terpaksa ikut tarkam hingga yang terakhir adalah laporan ke pihak berwajib terkait dugaan match fixing timnas U23 di ajang SEA Games 2015.

Namun dibalik kisah pahit tersebut, tetap terselip sebuah kisah manis yang dicontohkan oleh pesepakbola nasional, yakni Ferry Rotinsulu. Legenda hidup Sriwijaya FC yang akhir musim lalu memutuskan untuk pensiun sementara dari lapangan hijau ini kini sudah beralih profesi menjadi pengusaha yang cukup sukses di kota Palembang.

Saat memutuskan untuk gantung sepatu akhir musim lalu, diakuinya merupakan salah satu momen terberat dalam hidupnya. “Saya bukannya sudah tahu sepakbola akan dibekukan seperti saat ini, namun memang saat itu ingin lebih dekat dengan keluarga dan memulai persiapan usaha. Karena saya pun paham bahwa tidak selamanya bisa menggantungkan diri dari sepakbola,” ujarnya saat ditemui di bengkel miliknya yang terletak di kawasan Basuki Rahmat.

Sisa gajinya selama memperkuat Persebaya musim lalu plus tabungannya selama ini pun diinvestasikannya ke dalam beberapa bentuk usaha. Salah satunya adalah bengkel FR12 Auto Service yang sudah dijalankannya selama dua bulan terakhir. “Kenapa saya memilih bengkel mobil, karena sejak kecil memang hobi utak-atik dan ada partner kerja yang sangat saya percayai,” jelas kiper yang memperkuat SFC selama 8 musim ini.

Awalnya dirinya hanya diberikan tawaran untuk membeli sebuah bengkel yang ditinggalkan pemiliknya. “Namun saya bertemu pak Soleh, mekanik yang sejak saya di Palembang sudah memegang mobil saya. Kebetulan dirinya berhenti kerja dari bengkel langganan saya selama ini, karena dirinya mau bergabung maka saya putuskan untuk memulai usaha ini,” jelasnya.

Saat ini, kehidupannya pun berubah 180 derajat. Jika sebelumnya FR12 lebih banyak menghabiskan waktunya di lapangan untuk berlatih, maka setiap hari dirinya harus berkeliling untuk pengembangan usahanya. “Alhamdullilah, sudah ada beberapa asuransi yang bekerjasama dengan bengkel saya. Namun kadang saat saya datang untuk menawarkan kerjasama, sebelum pertemuan mereka mengajak berfoto bersama terlebih dulu. Tapi itu semua sangat saya syukuri saat ini,” jelas ayah dari dua putri ini.

Kini bengkel miliknya tersebut ramai dikunjungi konsumen yang ingin melakukan tune up atau body repair. Ditanya soal modal yang dikeluarkan, FR12 enggan menjawab secara rinci dan lebih menekankan bahwa bisnisnya ini merupakan salah satu investasi masa depannya. “Begitu pun dengan keuntungan, saya sadar bahwa bisnis seperti ini butuh proses dan tidak bisa instan, sama seperti saat bermain bola dulu. Sekarang saya hanya fokus bagaimana meningkatkan kepuasan pelanggan, jika hal tersebut mampu saya lakukan secara konsisten maka keuntungan pun secara otomatis akan kita raih,” tambahnya.

Sejak memulai usaha 2 bulan lalu, diakuinya cukup memenuhi target yang ditetapkan sebelumnya. “Setiap hari ada mobil yang masuk atau keluar, saya pun tidak terlalu memaksakan diri karena sekarang baru punya 6 mekanik dan 1 kepala bengkel. Jika terlalu banyak maka akan kewalahan, yang jelas kualitas pelayanan sangat kami perhatikan,” pungkasnya.

Artikel Terkait