Musim ini, banyak klub di Indonesian Super League (ISL) bermasalah saat meluncurkan jerseynya. Dimulai dari Persib Bandung yang diprotes oleh bobotoh karena desain jersey ketiga mereka yang dianggap menjiplak seragam klub asal Italia, Lazio. Kemudian Aremania yang memprotes perubahan logo Arema Cronus yang semula mencantumkan tahun kelahiran klub menjadi salam satu jiwa. Selain itu, motif jersey Singo Edan pun dianggap sama persis dengan seragam klub lainnya asal Italia, Parma. Terakhir, jersey Pusamania Borneo FC pun ramai diperbincangkan di sosial media karena juga dinilai menyerupai desain klub asal Turki, Galatassaray.

Bagaimana dengan SFC? Beberapa fans laskar wong kito, terutama yang menggilai dan mengoleksi jersey SFC pun memiliki pandangan tersendiri mengenai jersey yang akan digunakan Asri Akbar untuk musim depan. “Saya memang sudah memesan keseluruhan jersey SFC, baik home, away dan yang ketiga. Namun memang belum menyentuh secara langsung, jika melihat dari fotonya terkesan gagah,” ujar Raevy Madillaz, salah satu fans berat SFC yang memiliki puluhan jersey tim sejak musim pertama.

Menurut pria yang juga aktif di akun @info_sfc ini, ada beberapa hal yang diperhatikannya selama ini saat melihat konsep jersey untuk musim depan. “Saya melihat ada perubahan di bagian logo, yaitu tulisan SFC dihilangkan dan diganti tulisan 10 tahun. Saran saya lebih baik membuat patch khusus soal peringatan hari jadi klub,” jelasnya. Dirinya pun mencontohkan jersey Everton yang dimilikinya dan menilai kondisinya sama seperti yang dialami SFC saat ini. “Saya kebetulan juga pengkoleksi jersey original Wayne Rooney sejak dari Everton sampai saat ini bermain di Manchester United. Salah satu yang saya punya dan berharga adalah jersey Everton dengan patch khusus berlambang peringatan 100 tahun klub. Dan itu bisa juga dicontoh oleh SFC,” harapnya.

Selain itu, dirinya kembali menyarankan agar watermark atau siluet di bagian belakang jersey dapat dihilangkan. “Untuk bagian belakang di bawah nomor punggung bisa dimanfaatkan untuk kepentingan sponsor, apalagi katanya ada 1 perusahaan lagi yang berminat. Karena logo SFC sudah ada di bagian depan, jadi terlalu ramai jika ditambahkan lagi,” ungkap pria berkacamata ini. Raevy sendiri mengaku setiap musim memang secara khusus menyiapkan sejumlah dana yang berasal dari tabungannya untuk membeli jersey original SFC.

Bahkan dirinya pun mengaku mempunyai sejumlah jersey spesial yang cukup sulit diperolehnya. “Salah satu yang paling sulit adalah jersey sewaktu SFC menjuarai turnamen pra musim Inter Island Cup 2010, apalagi saat itu ada perubahan dari Reebok ke Specs. Meski tidak terlalu gagah namun nilai historisnya sangat luar biasa dan saya beruntung memilikinya,” tambahnya. Saat ini, kamarnya pun dipenuhi oleh beragam koleksi jersey SFC dan jersey Wayne Rooney, pemain idolanya.

“Kalau lokal saya suka pemain yang bertipe gelandang pekerja keras. Saya punya koleksi khusus jersey Ponaryo Astaman dan Asri Akbar, sebagian sudah ditandatangi langsung, sisanya akan saya kejar di musim ini. Mudah-mudahan saat laga PSM bermain di Palembang saya bisa melengkapinya,” pungkasnya.