laskarwongkito.com — Nama-nama pahlawan asal Sumsel ini boleh jadi sudah sangat akrab di telinga kamu. Ada yang disematkan sebagai nama jalan, adapula yang dipakai sebagai nama rumah sakit. Namun sayangnya, sedikit sekali dari kita yang mengetahui tentang cerita dan sejarah di belakang pahlawan besar ini.

Hal ini ditambah pula dengan fakta, hingga saat ini baru ada dua sosok pahlawan asal Sumsel yang mendapatkan anugerah gelar Pahlawan Nasional yakni Sultan Mahmud Badaruddin II dan Dr Adnan Kapau (AK) Gani.

FYI, di tahun 2015 lalu, Pemprov Sumsel juga sudah mengusulkan 1 nama lagi dari Sumsel untuk diperjuangkan menjadi Pahlawan Nasional yakni Residen H Abdul Rozak.

Tuh kan, kamu baru ngeh kalau nama jalan yang sering kamu lalui itu ternyata nama orang besar di zaman perjuangan kemerdekaan.

Berikut Tim Limo LWK merangkum lima pahlawan asal Sumsel yang mungkin kisahnya belum kamu ketahui :

1. Dr. ADNAN KAPAU GANI
Anak muda sekarang lebih akrab dengan sebutannya sebagai Dr AK Gani, itupun karena namanya dipakai sebagai RS Tingkat II di lingkungan TNI AD, tepatnya di belakang Kantor Pos Besar Palembang.

Asal kamu tahu, Dr. AK Gani ini merupakan pahlawan Sumsel yang telah mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional pada 9 November 2007 silam.

Ia dilahirkan di Palembayan, Agam, Sumatera Barat, 16 September 1905 dan meninggal di Palembang, Sumsel, 23 Desember 1968. Meski demikian, riwayat hidup dan karir perjuangannya lebih banyak di Palembang.

Dikutip dari laman Wikipedia, setelah Lulus dari STOVIA ia terjun ke dunia politik dengan menjadi anggota Jong Sumateranen Bond dan pernah menjabat sebagai anggota Konstituante ketika lembaga ini pertama kali didirikan. Ia juga tercatat menjadi anggota Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia) bersama tokoh pergerakan pemuda seperti Muhammad Yamin, Amir Sjarifoeddin dan Adam Malik. 

Selain itu, Ia juga pernah menjadi Gubernur Militer Sumsel dan melawan Agresi Militer Belanda dan ikut delegasi Perundingan Linggajati pada 1946.
Di Pemerintahan Indonesia, beberapa kali Gani menduduki kursi menteri.

Debut Gani bermula di Masa Kabinet Sjahrir III sebagai Menteri Ekonomi. Pada masa pemerintahan Amir Sjarifuddin (3 Juli 1947 – 29 Januari 1948), ia menjabat sebagai wakil perdana menteri merangkap sebagai Menteri Kemakmuran.

2. SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II Kalo pahlawan yang satu ini, tentu semua kita kenal karena memang literatur sejarah perjuangan Palembang Darussalam dalam menghadapi Belanda dan Inggris akan selalu menempatkan namanya.

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 6 Nopember 1973. Lahir di Palembang dan meninggal di Ternate, 26 September 1852. Nama aslinya adalah Raden Hasan Pengeran Ratu sedangkan ayahnya adalah Sultan Muhammad Bahaudin. Ia adalah pemimpin kesultanan Palembang Darussalam selama dua periode 1803-1813 dan 1818-1821.

Dalam masa pemerintahannya, ia beberapa kali memimpin pertempuran melawan Inggris dan Belanda, di antaranya terkenal dengan sebutan Perang Menteng.

Pada 13 Juli 1821, ketika Belanda berhasil menguasai Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II dan keluarga ditangkap dan diasingkan ke Ternate. Sultan bersama keluarga menaiki kapal Dageraad dengan terlebih dahula singgah di Batavia selanjutnya ke Ternate.

Namanya kini diabadikan sebagai nama bandara internasional di Palembang, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.

3. RESIDEN H ABDUL ROZAK
Buat kamu yang pulang ke arah Pusri, tentu saja akan sangat familiar dengan nama ini. Tapi, tahukah kamu, jika seorang Abdul Rozak ini masuk dalam keluarga ningrat Uluan dari kesukuan Komering.

Ia dilahirkan pada 5 September 1891, anak dari Pangeran Haji Muhammad Ali Djajadiningrat, seorang Pasirah Marga Madang Suku I yang membawahi 14 Desa. Tepatnya di dusun Rasuan sebagai putra ke-7 dari sembilan bersaudara.

Abdul Razak menempuh pendidikan awal di Sekolah Rakyat. Saat itu elite Tradisional Uluan muncul dalam bentuk berbeda dalam mengenyam pendidikan yang mulai digalakkan oleh pihak Belanda pada awal abad ke-20.

Pada perkembangannya elite Uluan mulai mendapat tempat, dengan dibukanya Sekolah Kelas Dua atau Vervolks School pada 1910 dan Volks School pada 1915. Sebagai seorang remaja, ia tidak segan-segan belajar dari kantor ayahnya. Ini pulalah yang menjadi bekal dan dasar baginya bekerja sebagai Magang di Banding Agung. Ketekunan dalam menjalankan tugas membawa H. Abdul Rozak selalu dalam kesuksesan.

Pada bulan Maret 1914-April 1916 lebih dari dua tahun ia diangkat menjadi Mantri polisi di Surolangun Rawas.
Sebagai seorang pemuda dalam usia 23 tahun, H. Abdul Rozak melangkah pula dalam kehidupan berumah tangga dengan seorang gadis dari Surolangun Rawas.

H. Abdul Rozak adalah bagian dari generasi yang berani menentang kolonialisme dan menyodorkan suatu keadilan lain yang ada yakni Indonesia Merdeka.

4. KOLONEL H BARLIAN
Nah, lagi-lagi nama ini sangat familiar, terutama bagi mereka yang pulang ke arah KM 12 Alang-alang Lebar. Karena namanya dipakai di jalan protokol yang terbentang sejak KM 4 hingga KM 9.

Barlian dilahirkan di Tanjung Sakti, Pagaralam, 23 Juli 1922. Orang tuanya H Senapi merupakan orang terpandang di Tanjung Sakti. H Senapi yang diberi gelar Pembarap merupakan adik Pangeran Kenawas. Dalam susunan keluarga, Barlian merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara. Menamatkan HIS di Bengkulu (1937) dan masuk MULO di Malang dan lulus 1941.

Sempat melanjutkan ke Sekolah Dagang di Bandung, tapi putus tahun 1942 karena meletus perang Asia Timur Raya. Pernah bekerja di kantor Residen Bengkulu sebagai calon wedana, hingga 1943.

Pada masa pendudukan Jepang, ia masuk Sekolah Opsir Gyugun (Sumatera Kambu Gyugun). Tahun 1945, ia mengepalai Badan Keamanan Rakyat (BKR) di daerah Bengkulu. Pada waktu yang sama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkat mayor.

Tahun 1946 memimpin perlawanan bersama pemuda dan rakyat terhadap pasukan Jepang di daerah Curup (Kepahyang) dan sekitarnya. Kembali ke Bengkulu tahun 1946 dan menjadi komandan Resimen Divisi I Sumatera Selatan. Juni 1948, setelah agresi militer Belanda I, dengan diadakan penyusunan kekuatan kembali, ia berpangkal letkol, dipercaya menjadi komandan Brigade Emas di Bengkulu.

Pada 1966-1967, menjadi anggota MPRS di Jakarta. Ia meninggal 24 September 1975, dalam status sebagai seorang purnawirawan TNI. Tepatnya dalam sebuah musibah pesawat terbang milik GIA jenis Fokker 28 “Mahakam” di kawasan Km 14 Palembang.

5. KYAI MEROGAN
Banyak kisah mistis-sufiistis yang berada di sekitar sosok yang terlahir dengan nama Masagus H. Abdul Hamid bin Masagus H. Mahmud ini. Ia sangat dihormati karena tingginya ilmu agamanya dan tentu saja karomah yang menyertai sejarah hidupnya.

Dibanding nama aslinya, masyarakat Palembang lebih suka memanggilnya dengan julukan “Kiai Marogan”. Julukan Kiai Marogan dikarenakan lokasi masjid dan makamnya terletak di Muara sungai Ogan, anak sungai Musi, Kertapati Palembang.

Mengenai waktu kelahirannya, tidak ditemukan catatan yang pasti. Ada yang mengatakan, ia lahir sekitar tahun 1811, dan ada pula tahun 1802.

Kiai Marogan memperoleh pendidikan langsung dari orang tuanya yang ternyata merupakan seorang ulama besar yang lama belajar di Mekah dibawah bimbingan ulama besar seperti Syekh Abdush Shomad al-Falimbani.

Setelah wafat, ayah Kiai Marogan dimakamkan di negeri Aden, Yaman Selatan. Melihat kecerdasan Kiai Marogan dalam menyerap ilmu agama kemudian orang tuanya mengirimkannya ke Mekah untuk belajar mendalami ilmu-ilmu agama.

Kiai Marogan tercatat pernah belajar ilmu-ilmu agama seperti ilmu fiqih, hadits dan tasawuf. Hal ini dapat diperoleh dari isnad-isnad yang ditulis oleh Syekh Yasin al-Fadani, mudir (pimpinan) Madrasah Darul Ulum Mekah. Dalam berdakwah Kiai Marogan menitikberatkan pada sikap zuhud dan kesufian dengan memperkuat keimanan. (red/wikipedia)

RelatedPost