PALEMBANG —enam Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) internasional asal Belanda, Inggris, dan Norwegia mendeklarasikan sebagai bagian dari kemitraan pengelolaan lanskap di Sumatera Selatan (Sumsel).
Deklarasi di depan Gubernur Sumsel Alex Noerdin, Kamis (26/5) di Griya Agung dilakukan LSM The Sustainable Trade Initiative (IDH) Belanda, United Kingdom Climate Change Unit (UKCCU) Inggris,  NICFI Norwegia, Zoological Society of London (ZSL) Inggris, Yayasan Belantara, Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) BioClime Belanda.
Selain deklarasi juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Gubernur Sumsel Alex Noerdin dengan Direktur Asia Pulp And Paper (APP) Sinarmas grup Suhendra Wiriadinata dan CEO Yayasan Belantara Agus Sari.
Menurut Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, untuk pertama kali deklarasi terkait kesediaan untuk membantu suatu daerah dalam memperbaiki lingkungan terjadi di Indonesia. “Ini menjadi catatan sejarah tersendiri bagi Sumatera Selatan dan Indonesia. Untuk kali pertama LSM internasional secara keroyokan membantu suatu daerah,” katanya.
“Kehadiran pada negara donor ini menunjukkan komitmen bersama warga dunia untuk melestarikan lingkungan yang saat ini menjadi tanggung jawab bersama. Sumsel sebenarnya malu karena apa yang terjadi di sini seharusnya menjadi tanggung jawab sendiri. Jadi jika Sumsel tidak serius maka akan lebih malu lagi,” kata Alex Noeordin.
Sementara itu Direktur APP Sinar Mas Suhendra Wiriadinata mengatakan, “Perusahaan telah menyalurkan dana untuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan dan pemulihan lingkungan ke Yayasan Belantara sejumlah 10 juta dollar AS. Perusahaan juga mengalokasikan 10 juta dolar AS untuk pembentukan desa makmur peduli api, dan infrastruktur pencegahan kebakaran hutan dan lahan yang mencapai 20 juta dolar.” (deddy)

Artikel Terkait