PALEMBANG — Melihat putri pertamanya melaksanakan shalat maghrib sendiri, lalu kemudian dilanjutkan dengan membaca surat yasin dan berdoa untuknya membuat M Sobran merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Dan hal ini pula yang melatarbelakangi pemain asli Sumsel ini untuk memutuskan berhijrah, meninggalkan ketenaran yang pernah didapatnya dan memulai kehidupan baru dengan lebih tenang. Berhijrah baginya tidak mesti sukses dalam hal materi, tetapi menjadikan manusia untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bertakwa kepada-Nya.

Nekad Tinggalkan Palembang, Merantau Ke Pekanbaru Bersama Supardi

Sosok M Sobran sendiri cukup dikenal sebagai salah satu putra daerah yang cukup berbakat. Sejak junior, Sobran sudah digadang-gadang sebagai talenta pesepakbola yang menjanjikan. Meski memiliki orang tua yang cukup berada dan merupakan pengurus olahraga, namun alumunus SMAN 10 Palembang ini selalu memilih untuk mandiri.

“Sebelum PON 2004, saya berpamitan dengan orang tua dan merantau untuk bergabung dengan PSPS Pekanbaru. Saya tidak meminta uang dan hanya memohon restu, saya benar-benar sendiri saat itu. Setelah tiba disana, saya pun mengajak Supardi (eks SFC dan sekarang bermain untuk Persib Bandung) untuk menyusul. Kami pun tidur sekamar berdua dan memulai perjuangan sebagai pesepakbola,” ujar Sobransaat ditemui Kamis (6/9) siang.

Dari kamar kecil nan sederhana, keduanya pun merajut impian untuk menjadi pemain top nasional. “Kami hanya mendapat 1 ranjang, akhirnya kami mengakalinya dengan menurunkannya agar bisa lebih luas. Tetapi semua itu awal dari perjuangan yang akan selalu kami kenang,” ungkapnya.

Karier sepakbolanya pun terus menanjak dan di tahun 2010 sempat membawa Persiba Balikpapan masuk ke 3 besar kompetisi ISL. Dua tahun kemudian Sobran akhirnya pulang kampung dan bergabung dengan SFC yang menjadi kampiun kompetisi tertinggi di tanah air tersebut. Namun sebenarnya perjalanan hidupnya barulah dimulai.

 

Cedera Parah dan Frustasi, Banting Setir Menjadi Ojek

Setahun kemudian, Sobran yang tetap dipertahankan manajemen SFC akhirnya tetap menggeluti dunia bola kulit bundar ini. Namun malang tidak dapat ditolak, menjelang akhir musim dirinya terkena cedera parah dan memaksanya harus beristirahat cukup lama. “Dalam masa pemulihan, jujur saya sempat frustasi dan berpikir bahwa hidup ini seperti tidak adil. Bahkan saya pun merasa seperti semuanya sudah berakhir, karier sepakbola sudah tamat dan tidak bisa bermain lagi, masa-masa menunggu operasi juga menjadi salah satu momen terburuk yang harus saya jalani,” kenangnya.

Bahkan usai operasi ACL, Sobran yang merasa sangat terpuruk sudah mulai putus asa. Dalam masa sulit tersebut, godaan untuk melakukan hal-hal tercela pun pernah menghampirinya walau akhirnya tidak terlaksana. “Saat itu, saya bekerja serabutan. Pernah menjadi tukang pasang banner iklan di salah satu mall di Palembang, bahkan selama seminggu pernah menjadi tukang ojek. Apapun saya lakukan untuk menghidupi keluarga,” tegasnya.

Tetapi karena pernah membawa SFC juara, seminggu setelah kisahnya menjadi tukang ojek naik ke media massa, salah satu BUMD di Sumsel menawarinya pekerjaan. “Saya juga kaget, ternyata usai menjadi bagian dari SFC juara dulu, surat rekomendasi untuk bekerja di BUMD tersebut masih berlaku. Saya pun dipanggil dan ditawari pekerjaan, meski cukup asing dengan dunia perbankan tetapi saya pun menerimanya,” jelasnya.

 

Hidup Nyaman Tak Menjamin Kebahagiaan, Melihat Anak Shalat Sendiri Putuskan Resign

Setelah sempat terpuruk, kehidupannya sedikit demi sedikit mulai membaik. Tetapi setelah 2 tahun bekerja, Sobran tetap merasakan ada bagian yang kurang. Walau dari sisi ekonomi tercukupi, namun batinnya berontak melihat hal-hal yang dianggapnya tidak sesuai dengan hati nuraninya.

Di suatu waktu, ada sebuah peristiwa yang menurutnya menjadi titik balik dalam hidupnya. “Istri saya mengirimi sebuah video dimana anak saya yang pertama ternyata sudah bisa shalat maghrib sendiri. Tidak hanya itu, usai shalat dia pun membaca surat yasin dan mendoakan kedua orang tuanya. Hati saya menangis, kemana saya selama ini, tidak sempat membimbingnya untuk lebih mengenal Allah SWT. Dan setelah itu, saya pun memutuskan resign dari pekerjaan saya tersebut, tekad saya cuma satu yakni memberikan rezeki yang halal untuk keluarga dan membimbing mereka agar tidak cuma bisa hidup di dunia namun juga di akhirat nanti,” ujar suami dari Ade Mahardika dan ayah dari Anissa Shazia Al Fatihah serta Adinda Asya Kirana ini.

Belajar dari Kisah Nabi Ayub

Memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan yang sudah cukup memberinya kehidupan yang mapan bukanlah perkara mudah untuk Sobran. Namun saat menceritakan hal ini kepada sang ibunda dan keluarganya, ternyata semuanya mendukung dan mendorongnya untuk terus memperbaiki diri.

Setelah seminggu, dirinya pun sudah bertekad untuk berhenti kerja dan memulai kehidupan baru. Namun karena ada tanggung jawab menghidupi keluarga, Sobran tetap berpikir mencari pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhannya. “Tapi saya tidak langsung bekerja, saat itu di kepala saya hanyalah sebelum bekerja, saya harus memperbaiki diri sendiri dulu. Dimulai dengan kewajiban utama yaitu shalat 5 waktu. Saya banyak mendengar ceramah di youtube seperti ustad Abdul Somad, ternyata doa paling besar itu adalah orang yang meninggalkan shalat tetapi tidak pernah merasa menyesal. Jadi hal itu dulu yang saya benahi,” bebernya.

Kisah dari Nabi Ayub pun diakuinya menjadi salah satu penguatnya di masa-masa proses memperbaiki diri tersebut. “Banyak cerita yang menyebut bahwa belajarlah dari sabarnya Nabi Ayub, saya juga membaca kembali kisah itu. Ternyata memang benar, seorang Nabi yang dulunya mempunyai segalanya akhirnya mendapat cobaan yang berat, namun semuanya diterima dengan lapang dada dan menganggapnya tidak sebanding dengan nikmat yang diberikan Allah SWT sebelumnya. Saya coba merenungi bahwa ternyata selama ini lebih banyak kenikmatan yang saya peroleh dari Yang Maha Kuasa ketimbang masalah-masalah yang mendera,” tambahnya.

Jadi Sopir Taksi Online, Gratiskan Penumpang Yang Hapal Surat Al Qiyamah

Setelah memperdalam dan memperbaiki shalatnya, Sobran pun kembali mencari pekerjaan untuk menopang keluarganya. Menjadi sopir taksi online akhirnya menjadi pilihannya karena dianggap tidak akan menganggu kewajiban beribadahnya.

“Saat itu, saya yakin ada pekerjaan yang lebih berkah dan diridhoi oleh Allah SWT. Walau sedikit namun halal, selain itu rezeki pun sudah dijamin seperti di dalam surat QS Hud ayat 6,” ungkap pemain yang dulunya bisa bermain di banyak posisi ini.

Beberapa kisah unik pun pernah ditemuinya saat bekerja, seperti shalat berjamaah dengan penumpang saat perjalanan. “Prinsip saya jika sudah tiba waktu shalat, maka bila dalam perjalanan saya meminta izin kepada penumpang untuk shalat dulu. Dan alhamdullilah selama ini selalu diizinkan dan beberapa diantaranya malah berjamaah,” kisahnya. Selain itu, dirinya pun sempat memberikan promo kepada penumpangnya yang mampu menghapal surat Al Qiyamah. “Dulu saya pernah menempel di dashoard, penumpang yang hapal surat tersebut gratis diantar dan tidak perlu bayar. Ada beberapa penumpang yang bertanya dan saya jawab ayat di surat tersebut sangat penting buat kita manusia, setelah sampai saya kaget ternyata di kolom komentar mereka mengucapkan terima kasih karena telah mengingatkan dan beliau terpacu untuk menghapalnya,” tambahnya.

Sobran juga tidak menampik, menjadi sopir taksi online juga penuh dengan suka duka. “Pernah beberapa hari tembus poin, tetapi tidak jarang hanya sedikit sekali yang order. Tetapi prinsip saya hanya ingin jujur, karena itu selama 6 bulan ini tidak pernah mendapat suspend dari kantor. Soal rezeki, alhamdullilah selalu ada saja jalannya, pernah disaat sepi penumpang entah datangnya darimana ada perusahaan yang menyewa mobil saja secara offline selama 3 hari sehingga bisa menutupi orderan sepi itu, beberapa kali teman lama pun menghubungi dan minta diantarkan tanpa proses order online. Ini bukti bahwa Allah SWT sudah menjamin selama manusia mau berusaha dan memperbaiki diri. Sekarang keinginan saya pun hanyalah diberikan kekuatan untuk beristiqomah di jalan ini,” tegasnya. (dedi)

Artikel Terkait