Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia tidak henti-hentinya melakukan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai sektor salah satunya sektor ekonomi. Di penghujung tahun 2018 ini, Bekraf melalui Forum Tematik Badan Koordinasi Kehumasan Pemerintah tahun 2018 yang diselenggarkan di Hotel Morrisey, Jakarta Pusat pada 21-22 November 2018 memaparkan capaian program kerja Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia tahun 2018.
Ekonomi Kreatif (Ekraf) merupakan salah satu sektor yang diharapkan mampu menjadi kekuatan baru ekonomi nasional di masa mendatang, seiring dengan kondisi sumber daya alam yang semakin terdegradasi setiap tahunnya. Melalui Bekraf, Pemerintah Indonesia berusaha menaruh perhatian lebih terhadap sektor ini, dengan tujuan untuk memaksimalkan potensi dan peluang Ekonomi Kreatif di Indonesia.
Bekraf telah sukses menghadapi tantangan era ekonomi kreatif yang sudah berlangsung sejak tahun 2010 lalu. Pada sambutannya, Sekretaris Utama Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, Restog  Krisna Kusuma menyampaikan bahwa, sesuai mandat Presiden Republik Indonesia, Ekonomi Kreatif harus menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia sebayak 5,02% di tahun 2016. Dengan demikian, Indonesia berhasil menempati posisi ke-3 tertinggi diantara negara-negara G20.
Dengan memperhatikan hasil survey Ekonomi Kreatif tahun 2016, terlihat bahwa Ekonomi Kreatif mampu memberikan kontribusi secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Pada tahun 2015, sektor ini menyumbangkan 852 triliun rupiah terhadap PDB nasional (7,38%), menyerap 15,9 juta tenaga kerja (13,90%), dan nilai ekspor US$ 19,4 miliar (12,88%). Survey juga menunjukkan peningkatan kontribusi Ekonomi Kreatif yang signifikan terhadap perekonomian nasional dari tahun 2010-2015 yaitu sebesar 10,14% per tahun. Hal ini membuktikan bahwa Ekonomi Kreatif memiliki potensi untuk berkembang di masa mendatang.
Di tahun 2018 sendiri, Bekraf telah berhasil meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat melalui Ekonomi Kreatif melalui berbagai programnya. Diantaranya, GoStarUp Indonesia, Coding Mum, Bisma, Fasilitasi HKI, Bantuan Revitalisasi Infrasturktur fisik ruang kreatif yang telah sukses terselanggara diberbagai kota di Indonesia. Masing-masing program ini sudah meliputi bidang pembiayaan usaha, pembinaan sdm, mentoring dalam mendirikan usaha baru, dana revitalisasi bangunan, serta fasilitasi HKI. Program Bekraf ini juga meliputi 16 sub-sektor ekonomi kreatif yang tersebar di seluruh Indonesia.
Sejalan dengan Bekraf dalam memberikan bantuan untuk kemandirian ekonomi masyarakat, Kementerian Pemuda dan Olahraga melalui Deputi Pengembangan Pemuda juga memberikan dana bantuan Kewirausahaan Pemuda di seluruh Indonesia. Melalui program ini Kementerian Pemuda dan Olahraga memberikan Pelatihan dan Pembinaan kepada pemuda-pemudi yang ingin membangun wirausaha baru, untuk kemudian diberikan dana bantuan usaha. Bantuan ini juga diberikan kepada wirausaha muda yang sedang berkembang dan masih membutuhkan bantuan dana.
Ketua umum Badan Koordinasi Kehumasan Pemerintah, Rosarita Niken Widiastuti menyampaikan, kinerja pemerintah yang berdampak langsung terhadap masyarakat seperti yang telah dilakukan Bekraf dan Kemenpora ini perlu di diseminasikan melalui berbagai strategi komunikasi agar diketahui lebih luas oleh masyarakat, “sebagai humas pemerintah, kita harus memaksimalkan upaya penyebarluasan kinerja pemerintah, agar produk-produk serta pengusaha muda Indonesia mampu memasuki panggung internasional. Disinilah peran Government Public Relation Officer akan sangat dibutuhkan untuk mengangkat brand-brand lokal Indonesia” tutur Niken. (red/ril)

Artikel Terkait