PALEMBANG — Keberadaan dokter spesialis yang menangani tenaga kerja khususnya untuk bidang keselamatan dan kesehatan pekerja di dinilai masih sangat minim. Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Perhimpunan Dokter Okupasi Indonesia (Perdoki), Dr Nusye E Zamsiar MS SpOK.

Menurutnya, minimnya dokter spesialis tersebut dikarenakan terbatasnya tempat pengajar. “Sampai saat ini cuma ada satu perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki program studi okupasi, yakni Universitas Indonesia,” ucapnya usai pertemuan dengan Gubernur Sumsel di Griya Agung, Senin (3/10).

Untuk di Indonesia, sambungnya, jumlah dokter spesialis okupasi hanya berkisar 200-an. “Untuk mengantisipasi ini kita akan buka prodi khusus okupasi di salah satu perguruan tinggi di Makasar,” katanya.

Sementara itu, Ketua Perdoki Sumsel, Dr Anita Masidin menuturkan, untuk wilayah Sumsel jumlah dokter spesialis okupasi masih dalam hitungan jari. “Untuk Sumsel baru ada tiga orang, dua orang di Palembang, satunya lagi di Muaraenim,” ungkapnya.

Lanjut Anita, untuk membuka prodi tersebut di wilayah Sumsel dirasakan masih lama dan belum terpantau. “Di Sumsel memang belum ada, minimal harus ada lulusan strata tiga (S3), tapi sekarang hanya ada lulusan S2. Jadi masih sangat lama untuk membuka prodi ini di Sumsel,” tutupnya. (juniara)

Related Post