PALEMBANG — kegiatan perpisahan antara murid dan guru sudah menjadi tradisi tersendiri bagi sekolah-sekolah yang melepaskan anak muridnya setelah menamatkan pendidikan kurang lebih tiga tahun di sekolah .

Kepala Dinas Pendidikan provinsi Sumsel, Widodo menegaskan pihaknya tidak melarang bahi sekolah yang ingin menggelar kegiatan perpisahan sepanjang tidak memberatkan orang tua siswa dan merupakan persetujuan bersama.

“Kegiatan perpisahan sekolah silakan, karena itu momen seumur hidup sekali, tapi jangan bermewah-mewah, apalagi memaksakan siswa yang tidak mampu,” tegas Widodo, Selasa (11/04).

Menurut Widodo, kegiatan perpisahan memang merupakan agenda diluar sekolah dan tidak wajib. Namun, jika semua pihak terkait setuju hal tersebut tidak dilarang.

“Saya minta kepada pihak sekolah agar memastikan agenda sekolah tidak menjadi hambatan bagi anak-anak tidak mampu,” kata dia

Widodo berharap sekolah bisa mendorong anak-anak untuk mengkedepanka kegiatan sosial, seperti perpisahan bisa di panti asuhan.

“Kalau perpisahan sekolah di panti asuhan kan lebih bermanfaat bisa membantu mereka, daripada berpesta-pesta,” tegasnya.

Terpisah, Wakil kepala sekolah (Wakepsek) Kesiswaan SMK Negeri 1 Palembang, Novi Mulyaningsih menjelaskan, perpisahan sekolah ini atas inisiatis siswa kelas XII. Mereka (siswa) dikumpulkan melalui masing-masing perwakilannya.

“Setelah mereka kumpul melalui perwakilan dan berinisiatif melakukan perpisahan diluar sekolah, yaitu di Grand Atyasa, bukan kami memaksa tapi ini keinginan siswa sendiri,” ujarnya.

Seluruh siswa kelas XII 560 dan setiap siswa diminta iuran sebesar 250 ribu untuk uang perpisahan. Pihaknya mengatakan tidak ada siswa yang keberatan dengan iuran tersebut, karena siswa ingin suasana yang baru.

“Kita juga dari sekolah sudah membahasnya. Sampai saat ini tidak ada siswa dan orang tua yang mengeluh, bahkan ada orang tua siswa yang ingin ikut tapi karena kendala dana jadi hanya siswanya saja,” tutupnya. (juniara)

Artikel Terkait