Meski menguasai jalannya pertandingan, namun dewi fortuna belum berpihak kepada Sriwijaya FC saat menjamu Mitra Kukar, Minggu (29/5) sore di stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang. Skor imbang tanpa gol akhirnya menutup laga dan laskar wong kito gagal menggeser Arema Cronus dari puncak klasemen sementara Torabika Soccer Championship (TSC) 2016.

Sejak menit awal SFC langsung menggempur pertahanan Mitra Kukar dan hasilnya sejumlah peluang emas dihasilkan. Seperti tendangan M Ridwan di menit 20 yang digagalkan oleh mistar gawang Naga Mekes. Sementara peluang emas lainnya melalui Fahrudin dan Hilton Moreira secara heroik dimentahkan oleh penjaga gawang Mitra Kukar, Sahar Ginanjar dan skor imbang menutup 45 menit pertama.

Di babak kedua, SFC tidak menggendorkan serangannya dan terus menciptakan peluang. Namun lagi-lagi nasib sial dialami oleh M Ridwan setelah tendangan kerasnya di menit 63 babak kedua kembali ditepis oleh Sahar Ginanjar. Tidak ingin kehilangan poin penuh, Widodo C Putro akhirnya memasukkan darah segar Anis Nabar, Firman Utina dan Airlangga Sucipto, namun buruknya penyelesaian akhir membuat skor kaca mata mengakhiri pertandingan yang dipimpin oleh Thoriq Alkatiri ini.

Pelatih Mitra Kukar Subangkit mengaku sangat bersyukur dengan hasil imbang ini. “Pertandingan ini sangat berat, karena kami terus ditekan selama 90 menit. Namun dari awal saya sudah tekankan mereka untuk melakukan compact difense dan mematikan 2 pemain asing di lini depannya yakni Beto Goncalves serta Hilton Moreira,” jelas eks pelatih SFC ini.

Menurutnya, strategi yang diterapkannya dengan mematikan kedua pemain tersebut sangat efektif dan berhasil membuat pemain SFC frustasi dalam menyelesaikan peluang. “Beto tidak hanya berbahaya saat mendapat peluang, namun juga ketika menerima bola pergerakannya mampu membuka ruang bagi pemain lainnya,” ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Sahar Ginanjar yang mengaku timnya cukup beruntung bisa mencuri poin di laga ini. “Secara permainan kami kalah dari SFC, baik dari sisi peluang maupun penguasaan bola. Tetapi inilah sepakbola, kami bekerja keras menentukan nasib kami sendiri dan beruntung bisa membawa pulang poin dari Palembang,” jelas Sahar.

Diakuinya, sebelum pertandingan dirinya memang mengkhususkan diri mengamati permainan SFC melalui sosial media dan rekaman ulang pertandingan. “Saya pribadi melihat bagaimana SFC saat di kandang sebelumnya mampu mencetak banyak gol melawan Madura United. Sekarang zaman sudah modern dan melalui tayangan tersebut saya tahu keunggulan mereka yang sering menciptakan peluang melalui bola-bola silang,” bebernya.

Sementara itu, pelatih SFC Widodo C Putro mengaku cukup kecewa dengan hasil imbang yang diraih oleh asuhnya di laga ini. “Secara hasil saya cukup kecewa karena target saat bermain di kandang tentu harus mengamankan poin penuh, tetapi saya cukup puas dengan permainan SFC karena sebenarnya banyak peluang tercipta, tetapi memang ada masalah di penyelesaian akhir di laga ini,” ungkap WCP.

Usai pertandingan, dirinya sendiri mengaku sudah berbicara kepada seluruh pemain dan meminta menjadikan laga ini sebagai momentum untuk lebih baik lagi kedepannya. “Saya melihat ada sisi positif dan SFC sudah menemukan ritme terbaiknya. Tetapi evaluasi pasti ada, terutama bagaimana memanfaatkan peluang yang ada,” tambahnya.

Saat berulang kali gagal menyelesaikan peluang, diakuinya seluruh pemainnya seperti kehilangan akal. “Kami sudah mengantisipasi permainan mereka dan bisa menguasai penguasaan bola. Tetapi saya berharap ketika seperti membentur tembok seharusnya bisa lebih berimprovisasi, jangan memaksakan serangan dari tengah karena seluruh pemain lawan menumpuk, inilah sepakbola dan kami akan lebih baik lagi kedepannya,” tegasnya.

Artikel Terkait