Turnamen Piala Gubernur Kaltim menjadi turnamen ketiga yang diikuti oleh Sriwijaya FC pasca pembekuan PSSI dan jatuhnya sanksi FIFA, April tahun lalu. Prestasi terbaik yang diraih laskar wong kito adalah menjadi finalis turnamen Piala Presiden, sementara di turnamen kedua yakni Piala Jenderal Sudirman, SFC gagal lolos ke putaran 8 besar setelah kalah bersaing di putaran grup oleh Arema Cronus dan Persija Jakarta.

Menariknya, di tiga turnamen yang diikuti laskar wong kito, di laga perdana yang dimainkan kesemuanya dimenangkan SFC dengan skor tipis 1-0. Di turnamen Piala Presiden, gol Syakir Sulaiman membawa SFC menang atas PSGC Ciamis, sementara di turnamen Piala Jenderal Sudirman, melawan Persegres United, gol tunggal dihasilkan oleh Titus Bonai.

Dan terakhir di laga perdana melawan PS TNI pada turnamen Piala Gubernur Kaltim, SFC lagi-lagi hanya mampu menang dengan skor 1-0 lewat gol Beto Goncalves. Menanggapi hal ini, Arief Budiman perwakilan Singa Mania Borneo menilai kesamaan tersebut tidak dapat dijadikan sebuah patokan mengenai langkah SFC selanjutnya.

“Di dua turnamen awal, SFC mengalami masalah di sisi persiapan. Sewaktu piala presiden, waktu berkumpul sangat singkat dan latihan di Palembang tidak maksimal karena ada asap, lalu untuk turnamen PJS persiapan terganggu karena banyak pemain ikut Habibie Cup di Makassar yang berujung tidak maksimalnya penampilan tim di putaran grup,” jelasnya.

Sedangkan menghadapi turnamen PGK ini, meski sudah menggelar latihan cukup awal, namun Bendol tetap memiliki masalah karena banyak masuknya pemain baru sehingga proses adaptasi harus dimulai dari awal lagi. “Kemudian sewaktu menggelar persiapan di Palembang, tidak ada lawan sepadan untuk uji coba yang menurut pengakuan pemain menjadi sedikit kekurangan. Sebagai suporter, tentu kami ingin tim ini bermain maksimal di setiap turnamen yang diikuti, tapi kami juga percaya ada proses yang harus dijalani dan tidak bisa instan,” ungkapnya.

Selain prestasi, pihaknya juga mengingatkan kepada manajemen SFC untuk tidak melupakan proses pembinaan dan regenerasi pemain muda, khususnya putera asli Sumsel kedepannya. “Masuknya pemain senior seperti Firman Utina dkk tentu harus dimanfaatkan sebagai transfer ilmu untuk young guns SFC seperti Hapit Ibrahim dan Ichsan Kurniawan,” harapnya.