Suporter dan klub sepak bola ibarat sayur dan garam, sesuatu yang tak bisa dipisahkan. Keduanya saling melengkapi, walau tak melulu sehati. Walau terkadang, klub harus kena sanksi lantaran ulah brutal suporter. Sebaliknya, fans kecewa karena tim kebanggaan tak tampil dengan performa terbaik. Di kompetisi mana pun, kehadiran fans sangat ditunggu. Suporter adalah penyemangat, karena itulah mereka sering disebut sebagai pemain ke-12.

Begitupun kisah Jacky, fans fanatik Sriwijaya FC yang mengaku hidupnya kini tak bisa terpisahkan dengan laskar wong kito. Sejak masih melajang, pria yang berprofesi sebagai wiraswasta servis AC ini selalu menyempatkan diri mengikuti perkembangan SFC. “Awal SFC berdiri belum terlalu suka, namun sejak tahun 2007 pas era Ngon A Djam saya selalu menyempatkan diri nonton SFC latihan,” ungkap ayah dari 2 anak ini.

Tidak hanya menonton latihan, sejak tahun 2007 hingga sekarang dirinya selalu membuat kliping berita mengenai SFC. “Cuma 2005-2006 yang agak kurang lengkap, selain itu saya pun kalau diberikan rejeki juga menambah koleksi jersey, hingga sekarang sudah terkumpul 15 jersey original SFC,” bebernya.

Bahkan saat sudah menikah, sang istri Ayu Hendri ikut-ikutan doyan nonton SFC. “Pas umur kehamilan  bulan, malah istri yang maksa nonton SFC. Waktu itu kami senang dengan Dirga Lasut, berkat bantuan salah seorang anggota Singa Mania kami bisa bertemu langsung dengannya dan meminta izin memakai namanya,” kenang Jacky.

Dirga yang bermain bagi SFC di era Ivan Kolev ini pun tidak mempermasalahkan niatnya tersebut. “Namun katanya cukup Mahadirga, karena Lasut itu nama marga di Manado,” jelasnya. Jadilah anak pertamanya langsung diberi nama M Mahadirga Saputra. “Sekarang Dirga juga senang sekali sepakbola, apa karena waktu lahir saya kasih hadiah bola,” ungkapnya sambil tertawa.

Dirge yang kini menginjak usia 4,5 tahun dan bersekolah di TK Al Fattah pun sudah menunjukkan kegilaan yang sama seperti sang ayah. “Pernah suatu hari dia tidak masuk sekolah karena demam, tapi sore hari pas diajak ke stadion GSJ menonton SFC langsung mendadak sembuh. Kemana-mana pun dia selalu membawa bola kesayangannya,” tambahnya.

Menurutnya, kini materi SFC sudah cukup mumpuni untuk kembali bersaing di gelar juara. “Semoga bisa kembali menjadi yang terbaik seperti dulu dan saya yakin karena pemainnya sudah cukup bagus. Kalau dulu saya suka dengan Keith Kayamba, kalau sekarang senang dengan Thiery Gauthessi karena orangnya sangat bersahabat. Tapi kalau bisa kasih saran ke Om Bendol untuk sering senyum, karena walaupun kita tahu orangnya baik, tapi mungkin karena susah senyum jadi sampai sekarang kami takut untuk mengajaknya berfoto bersama,” pungkasnya.

 

Artikel Terkait