PALEMBANG — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (pemprov Sumsel), untuk itu pemprov Sumsel dan badan restorasi gambut (BGR) beserta pihak terkait lainnya bahu membahu mengatasi hal tersebut.

Lahan gambut di Sumsel tersebar di enam kabupaten, yakni Musi Banyuasin, Musirawas, Muaraenim, Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir (OI). Keenam daerah ini merupakan produsen asap yang melanda Sumsel tahun lalu.

Pada sosialisasi restorasi gambut si hotel Aryaduta, Selasa (09/8), Pemprov Sumsel dan BRG beserta TNI membahas langkah serius penanggulangan bencana  karhutla karena lahan gambut yang ada saat ini masih memungkinkan terjadi bencana serupa.

Menurut Sekretaris BRG, Hartono Prawira Atmaja, pihaknya akan melakukan restorasi gambut dengan beberapa cara, diantaranya penyekatan atau penimbunan kanal, pembangunan sumur bor untuk sumber air memadamkan kebakaran dan membudidayakan tanaman lokal seperti rumput gajah supaya lahan gambut produktif menghasilkan sumber energi alternatif.

Selain itu juga, upaya lain yang dilakukan BRG yaitu mengandalkan aspek sosial, seperti desa peduli api, kerjasama kajian dan penelitian dengan perguruan tinggi dan sebagainya. “Intinya kita ingin melibatkan semua pihak mulai dari masyarakat, pemerintah, TNI, Polri dan BRG sendiri,” tegasnya.

Gubernur Sumsel H. Alex Noerdin mengungkapkan, restorasi gambut harus segera dilaksanakan secepatnya jika tidak ingin menghirup asap kembali. “Lahan gambut kita luas, harus segera direstorasi untuk mencegah kemungkinan buruk yang bakal terjadi dan ancaman karhutla masih jadi pekerjaan rumah kita,” ucapnya.

Sementara restorasi gambut yang direncanakan sejak Desember tahun lalu, hingga saat ini masih dikaji Pemprov Sumsel dan pihak-pihak terkait.(juniara)

RelatedPost