PALEMBANG — Indonesia Mengajar adalah sebuah program yang sudah tak asing lagi ditelinga sebagian  masyarakat. Program yang digagas oleh mantan Menteri Pendidikan, Anies Baswedan ini telah mereguk tahun kelima sekaligus menjadi tahun terakhir. Sebuah visi dan misi mencerdaskan anak bangsa terlah terlaksanakan.

Ibda Fikrina Abda, Marlina Ayuningtias dan Annisa Dwi Astuti beserta sembilan temannya yang lain saat ini tengah mengabdikan diri menjadi pengajar muda di kabupaten Musi Banyuasin dan Muara Enim.

Mereka adalah sarjana-sarjana terbaik dari berbagai penjuru tanah air yang terketuk pintu hatinya untuk menjadi Pengajar Muda,  ikut membantu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui langkah nyata di bidang pendidikan.

Menjadi Pengajar Muda bukanlah pengorbanan. Ini adalah kesempatan sekaligus kehormatan besar untuk mengenal bangsa Indonesia secara langsung dan utuh. Selama setahun di daerah penempatan, mereka mengajar, berinteraksi dan membagi inspirasi. Mengajak anak-anak daerah untuk berlari mengejar mimpi, berjuang meraih mimpi ditengah kemelut dunia pendidikan yang masih tertinggal di daerahnya.

Ibda Fikrina Abda, Pengajar muda alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,  rela meninggalkan pekerjaannya sebagai Public relation disebuah hotel ternama di Ibu kota untuk mengabdikan diri sebagai pengajar muda di sekolah dasar negeri (SDN) 19 Rambang, kabupaten Muara Enim.

Menurutnya ini adalah sebuah panggilan jiwa untuk terjun langsung menyelesaikan persoalan pendidikan di Indonesia, bukan hanya sekedar gembar-gembor semata mengkritisi tanpa aksi.  “Tetapi kita juga turut andil dan ambil peran,” kata gadis ayu kelahiran Brebes, Jawa tengah.

Mantan Ketua pers UMY ini menuturkan, awalnya kedua orang tuanya khawatir dan sempat tidak menyetujui idenya menjadi pengajar muda, namun dengan kegigihan dan sifat keras kepala yang ia miliki, akhirnya kedua orang tua Ibda luluh, menyetujui keberangkatnnya meninggalkan tanah Jawa.

“Dari awal orang tua sebenarnya nggak setuju tetapi karena saya keras kepala dan minta kakak untuk membujuk  ayah  yang akhirnya luluh juga. Menjadi  pengajar muda itu  sudah mimpi aku sejak  masih kuliah, karena di Indonesia itu bukan hanya Jakarta dan Jawa tetapi banyak daerah pelosok yang butuh kita,” ungkapnya.

Ibda mengaku, awal tiba di Rambang ia cukup terkejut dengan bahasa dan  intonasi  bicara masyarakat Rambang yang cukup keras. “Mereka suku asli Rambang, jadi nggak pakai bahasa Indonesia pakai bahasa dusun jadi aku nggak ngerti, ngomongnya juga keras aku kira marah eh ternyata nggak karena  itu memang caranya jadi sekarang udah jadi kebiasaan,” jelasnya.

Selain itu, tantangan geografis juga dihadapi oleh pengajar muda. Akses jalan yang belum lancar dan susah dijangkau anak-anak Rambang untuk menuju sekolah.

“Masalah di lapangan kebanyakan  secara geografis, jika hujan jalannya terputus. Tetapi  tidak hanya itu saja, kendala pola pikir masyarakat yang belum mau melanjutkan sekolah dan menganggap sekolah itu tidak penting menurut mereka jika sudah menyadap karet dan mendapatkan uang itu sudah cukup. Tetapi itu dulu, setelah lima tahun program Indonesia mengajar berlangsung, pola pikir mereka sudah berubah. Pendidikan mereka sudah  ada yang menginjak SMP, SMA bahkan ada pemuda Rambang yang beranjak ke Thailand mengikuti konferensi tingkat ASEAN,” paparnya.

Langkah Indonesia mengajar tidak hanya sampai disini saja,  para pengajar muda juga mengajak aktor lokal yang satu visi dan misi, peduli dengan daerahnya untuk membentuk gerakan baru yang dinamakan Rambang mengajar. “Sarjana lokal yang kita ajak untuk melakukan kegiatan secara berbarengan. Jadi  kita cuma membuka akses dan memfasilitasi, dan aktor lokal yang menjadi estafet kita nanti,” tutup perempuan berhijab  yang pernah tergabung dengan paduan suara UMY. (juniara)

 

RelatedPost