Kehidupan Pelaku Sepakbola di Indonesia Pasca Turunnya Sanksi FIFA
 
            Kemelut berkepanjangan sepakbola nasional yang dimulai dengan persetruan antara Menpora – PSSI mulai menunjukkan dampaknya. Seluruh pelaku pesepakbola di tanah air kini pun mulai harap-harap cemas memikirkan kelangsungan hidupnya. Untuk level klub, hampir seluruhnya kini melakukan rasionalisasi gaji terhadap pemainnya, beberapa diantaranya pun malah sudah ada yang membubarkan tim karena kesulitan finansial pasca berhentinya kompetisi.

            Untuk menyambung hidup, pemain mulai melirik turnamen antar kampung (tarkam) sebagai salah satu alternatif. Namun tidak semua klub mengijinkan pemainnya berlaga di tarkam dan tidak semua daerah juga menggelar kegiatan serupa. Beberapa aset pribadi seperti kendaraan bermotor, tanah hingga barang elektronik dilego untuk menutupi kehidupan sehari-hari.

Fauzi Toldo (Kiper PSM Makassar, eks SFC)
 
            Entah sudah memiliki firasat bakal terjadi kondisi seperti saat ini, namun insting Fauzi Toldo cepat berjalan dan menyiapkan sederet usaha guna menutupi kekosongan aktifitas pasca penghentian kompetisi di tanah air karena konflik berkepanjangan Menpora – PSSI.

            Penjaga gawang yang saat ini membela PSM Makassar pun sudah merintis berbagai usaha untuk menopang kehidupannya sehari-hari. “Sebenarnya bukan karena penghentian kompetisi seperti saat ini saja, sejak musim lalu kala masih bermain di SFC saya sudah merintis usaha kecil-kecilan sebab sadar bahwa tidak mungkin selamanya bermain bola,” ungkap jebolan tim PON Sumsel 2004 ini.

            Namun diakuinya, usahanya saat ini memang belum bisa menyamai pendapatannya kala bermain bola seperti biasa. “Jika melihat jumlahnya, masih kalah jika dibandingkan dengan pendapatan sebagai pemain bola professional. Tapi cukuplah untuk membantu kehidupan sehari-hari, dan saya pun akan terus menjalankan usaha ini karena setelah dijalani ternyata sangat menjanjikan jika dikelola dengan baik,” bebernya.

            Kini, sebuah toko yang menjual peralatan olahraga sudah berdiri di kawasan Sukajadi Palembang yang tidak jauh dari kediamannya. “Saya jual sepatu, jersey dan perlengkapan olahraga lainnya. Pangsa pasarnya lumayan karena kebanyakan membeli karena tahu karier saya sebagai pesepakbola,” tambahnya.

            Dirinya pun belakangan mulai mendapat order dari beberapa klub di tanah air, seperti tim PSM U21 yang memesan jersey kepada dirinya. “Namun lebih banyak masih lokal Banyuasin dan Palembang, tapi kadang ada beberapa item kecil seperti kaos kaki yang dipesan klub-klub divisi utama,” jelas Toldo.

            Menariknya, tidak hanya produk olahraga yang dipasarkannya, melainkan juga pernik lain yang mengikuti keinginan pasar. Seperti beberapa waktu lalu saat demam batu akik tengah melanda hampir seluruh penjuru tanah air. Ayah dari 3 orang anak ini pun mendapat orderan untuk mengirimkan batu bongkahan dari wilayah Sumsel ke Makassar.

            “Tapi saya hanya mengirim dan di Makassar sudah ada orang yang mengolahnya sendiri. Saya mengirim batu bongkahan dari Lubuk Linggau dan Baturaja yang memang punya kualitas baik dan punya nama, untuk jenisnya mulai dari Teratai hingga Bacan,” ungkap putra asli Sumsel ini. Kedepannya, meski sudah memiliki usaha sendiri, Fauzi berharap kompetisi dapat segera bergulir kembali.

            “Saya masih punya target di lapangan hijau, dan seluruh pemain di Indonesia pasti punya keinginan yang sama. Tapi sekali lagi, dari kondisi yang dialami saat ini saya banyak belajar untuk mempersiapkan segala sesuatnya disaat kondisi kita masih prima. Mumpung saya masih diberi kepercayaan bermain, penghasilan yang didapatkan haruslah disisihkan dan mulai membuat usaha agar tidak kaget jika di posisi seperti sekarang,” pungkasnya.
 

Artikel Terkait