BALI — Adanya kebijakan kewajiban memainkan 5 pemain U22 di turnamen Piala Presiden 2017 menjadi berkah tersendiri bagi Slamet Budiono. Pemain muda jebolan PON Sumsel ini diturunkan sejak menit awal saat Sriwijaya FC bertemu Bali United, Selasa (7/2) kemarin di stadion I Wayan Dipta Gianyar Bali.

Menempati posisi sayap kanan, pergerakan Budi beberapa kali merepotkan pertahanan tim Serdadu Tridadu. Namun minimnya pengalaman membuat Budi juga terlihat beberapa salah posisi dan kebingungan di lapangan. “Saya akui memang sedikit nervous karena ini laga perdana saya di level senior dan sebelumnya saya paling tinggi bermain di level PON dulu,” ungkap Budi saat dihubungi Kamis (9/2) sore.

Menurutnya, kedepan dirinya mentargetkan untuk dapat menembus tim inti laskar wong kito dan tidak hanya mengandalkan aturan regulasi U22 saat ini. “Di skuad SFC banyak pemain senior berpengalaman dan saya banyak belajar dari mereka. Tentu tidak bisa kalau saya hanya mengandalkan aturan yang ada saat ini, namun untuk meraihnya saya harus bekerja keras karena persaingan disini sangat ketat dan banyak pemain bagus di posisi saya,” jelasnya.

Perjalanan karier Budi sendiri sebelum masuk ke SFC seperti sebuah kisah di sinetron. Mengawali karir di kampung halamannya yang terletak cukup jauh dari Palembang, Budi tidak mengira bisa menembus skuad SFC, klub idolanya dari kecil. “Saya awalnya hanya ikut latihan di kampung, kemudian masuk skuad Persimura dan terpilih menjadi bagian dari tim Porprov Mura,” bebernya.

Usai Porprov, penampilan gemilang yang ditunjukkannya membuat dirinya mendapat kesempatan mengikuti seleksi tim PON Sumsel yang dipersiapkan turun di ajang PON 2016 Jabar. “Alhamdullilah saya diterima dan terus menjadi bagian dari tim sejak dari Porwil Sumatera hinga PON di Jabar. Selama dilatih oleh Opa Rudy Keltjes, saya banyak mendapat pengalaman berharga disana,” tambahnya.

Di ajang pesta olahraga terbesar di tanah air ini, PON Sumsel hanya berhasil meraih posisi keempat dan kandas di babak semifinal. Namun beserta 5 pemain lainnya, Budi juga kembali mendapat promosi masuk ke skuad senior SFC. “Saya bertekad untuk mengharumkan nama daerah saya, saat mendengar saya bisa masuk SFC semua orang di kampung mendoakan saya. Bahkan di laga perdana lalu, mereka pun secara khusus menggelar nobar untuk menyaksikan penampilan saya, itu menjadi pelecut buat saya agar lebih baik lagi kedepannya,” ujar Budi yang berasal dari kampung SP 9 Cecar, BTS Ulu Musi Rawas ini.

Selaim itu, Budi juga menyebut punya motivasi lain yakni ingin membahagiakan orang tuanya, terutama sang ibu yang saat ini masih bekerja sebagai TKI di negeri Jiran, Malaysia. “Saya sudah hamper 13 tahun tidak bertemu dengan ibu, kemarin seminggu sebelum berangkat ke Bali saya berkesempatan bertemu dengannya di Boyolali, kampung asal ibu. Jika nanti sudah berhasil, ibu saya tidak perlu lagi bekerja di luar negeri dan cukup saya yang menjadi penopang dan tulang punggung keluarga,” pungkasnya. (dedi)

Artikel Terkait